<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2805917360377116211</id><updated>2011-09-25T01:07:16.165-07:00</updated><category term='Pasar Modal Syariah'/><category term='Ekonomi Pembangunan Syariah'/><category term='Zakat'/><category term='Wakaf'/><title type='text'>ekonomishariah</title><subtitle type='html'>blog ini merupakan wadah tempat berbagi dan berdiskusi seputar ekonomi syariah.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>jaharuddin.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00917718316384441930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_FHUL2vrDL3k/SIvRgKDFiRI/AAAAAAAAAak/IV5_ijUIFu0/S220/DSC03759.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2805917360377116211.post-263262245303755076</id><published>2008-06-01T18:50:00.000-07:00</published><updated>2008-06-01T18:51:27.977-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pasar Modal Syariah'/><title type='text'>RUU Sukuk</title><content type='html'>RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;SURAT BERHARGA SYARIAH NEGARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang: a.     bahwa strategi dan kebijakan pembangunan untuk memulihkan sektor ekonomi perlu disertai dengan upaya pengelolaan keuangan negara secara optimal melalui peningkatan efisiensi dalam pengelolaan aset-aset negara maupun sumber-sumber pembiayaan anggaran negara;&lt;br /&gt;b.   bahwa dalam rangka pengelolaan keuangan negara untuk meningkatkan daya dukung APBN guna menggerakkan pembangunan sektor ekonomi secara berkesinambungan, diperlukan pengembangan berbagai instrumen pembiayaan yang mampu memobilisasi dana publik secara luas dengan memperhatikan nilai-nilai sosial budaya yang berkembang dalam masyarakat;&lt;br /&gt;c.   bahwa peluang sumber pembiayaan pembangunan berdasarkan prinsip syariah, yang memiliki potensi besar, belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena tidak tersedianya perangkat hukum yang mendukung;&lt;br /&gt;d. bahwa pengembangan instrumen keuangan berdasarkan prinsip syariah perlu segera dilaksanakan selain untuk mendukung pemanfaatan aset negara secara efisien dan untuk mendorong terciptanya sistem keuangan yang berdasarkan prinsip syariah di dalam negeri, sekaligus untuk memperkuat basis pembiayaan anggaran negara baik bersumber dari dalam negeri maupun dari luar negeri;&lt;br /&gt;e.   bahwa penggunaan instrumen keuangan berdasarkan prinsip syariah mempunyai karakteristik yang berbeda dengan instrumen keuangan konvensional, sehingga perlu pengaturan secara khusus, baik yang menyangkut instrumen maupun perangkat yang diperlukan;&lt;br /&gt;f.    bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf d dan huruf e, perlu menetapkan Undang-undang tentang SBSN;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat:    1.   Pasal 4, Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 20A, Pasal 23, Pasal 23A, Pasal 23B, Pasal 23C, dan Pasal 23D Undang-Undang Dasar 1945;&lt;br /&gt;2.       Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3843) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4357);&lt;br /&gt;3.       Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 Tentang Surat Utang Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 110, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);&lt;br /&gt;4.       Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4287);&lt;br /&gt;5.       Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Persetujuan Bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN:&lt;br /&gt;Menetapkan  :   UNDANG-UNDANG TENTANG SURAT BERHARGA SYARIAH NEGARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan:&lt;br /&gt;1.       Surat Berharga Syariah Negara atau dapat disebut Sukuk Negara, yang selanjutnya disebut SBSN adalah surat berharga yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap Aset SBSN, baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing;&lt;br /&gt;2.       Perusahaan Penerbit SBSN adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan ketentuan Undang-Undang ini untuk melaksanakan kegiatan penerbitan SBSN;&lt;br /&gt;3.       Aset SBSN adalah Barang Milik Negara yang memiliki nilai ekonomis, berupa tanah dan/atau bangunan maupun selain tanah dan/atau bangunan, yang dalam rangka penerbitan SBSN dijadikan sebagai dasar penerbitan SBSN;&lt;br /&gt;4.       Barang Milik Negara adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau berasal dari perolehan lainnya yang sah, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;&lt;br /&gt;5.       Akad adalah perjanjian yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah;&lt;br /&gt;6.       Ijarah adalah Akad yang satu pihak bertindak sendiri atau melalui wakilnya menyewakan hak atas suatu aset kepada pihak lain berdasarkan harga sewa dan periode sewa yang disepakati;&lt;br /&gt;7.       Mudharabah adalah Akad kerjasama dimana satu pihak menyediakan modal (rab al-maal) dan pihak lain menyediakan tenaga dan keahlian (mudharib), keuntungan dari kerjasama tersebut akan dibagi berdasarkan perbandingan yang telah disetujui sebelumnya. Apabila terjadi kerugian, maka kerugian tersebut akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak yang menjadi penyedia modal;&lt;br /&gt;8.       Musyarakah adalah Akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk menggabungkan modal, baik dalam bentuk uang maupun bentuk lainnya, untuk tujuan memperoleh keuntungan, yang akan dibagikan sesuai dengan perbandingan yang telah disetujui sebelumnya, sedangkan kerugian yang timbul akan ditanggung bersama sesuai dengan jumlah partisipasi modal masing-masing pihak;&lt;br /&gt;9.       Istisna’ adalah suatu Akad jual beli antara para pihak untuk pembiayaan suatu proyek dimana cara dan jangka waktu penyerahan barang serta harga ditentukan berdasarkan kesepakatan para pihak;&lt;br /&gt;10.   Imbalan adalah semua pembayaran yang diberikan kepada Pemegang SBSN yang dapat berupa sewa atau bentuk pembayaran lainnya yang sesuai dengan Akad yang digunakan, bagi hasil atau margin sampai dengan berakhirnya periode SBSN sesuai dengan Akad antara Pemerintah, Perusahaan Penerbit SBSN selaku penerbit SBSN dan pemegang SBSN atau wakilnya;&lt;br /&gt;11.   Pemerintah adalah Pemerintah Pusat Republik Indonesia;&lt;br /&gt;12.   Menteri adalah Menteri  Keuangan Republik Indonesia;&lt;br /&gt;13.   Pasar Perdana adalah kegiatan penawaran dan penjualan SBSN baik di dalam maupun di luar negeri untuk pertama kalinya;&lt;br /&gt;14.   Pasar Sekunder adalah kegiatan perdagangan SBSN yang telah dijual di pasar perdana baik di dalam maupun di luar negeri;&lt;br /&gt;15.   Nilai Nominal adalah nilai SBSN yang tercantum dalam sertifikat SBSN;&lt;br /&gt;16.   Hak Manfaat adalah hak untuk memiliki dan mendapatkan hak penuh atas pemanfaatan suatu aset tanpa perlu dilakukan pendaftaran atas kepemilikan dan hak tersebut;&lt;br /&gt;17.   Wali Amanat (Trustee) adalah pihak yang mewakili kepentingan pemegang SBSN sesuai dengan yang diperjanjikan;&lt;br /&gt;18.   Nilai Bersih Maksimal Surat Berharga Negara adalah tambahan atas jumlah Surat Utang Negara dan SBSN yang telah beredar dalam satu tahun anggaran, yang merupakan selisih  antara jumlah Surat Utang Negara dan SBSN yang akan diterbitkan dengan jumlah Surat Utang Negara dan SBSN yang akan jatuh tempo dan atau yang akan dibeli kembali oleh Pemerintah;&lt;br /&gt;19.   Surat Utang Negara adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara.&lt;br /&gt;20.   Surat Berharga Negara adalah Surat Utang Negara dan SBSN;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;BENTUK DAN JENIS SURAT BERHARGA SYARIAH NEGARA&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;(1)         SBSN diterbitkan dalam bentuk warkat atau tanpa warkat.&lt;br /&gt;(2)         SBSN sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dalam bentuk yang diperdagangkan atau dalam bentuk yang tidak diperdagangkan di Pasar Sekunder.&lt;br /&gt;Pasal  3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SBSN dapat berupa:&lt;br /&gt;a.       SBSN Ijarah, yang diterbitkan berdasarkan Akad Ijarah;&lt;br /&gt;b.       SBSN Mudharabah, yang diterbitkan berdasarkan Akad Mudharabah;&lt;br /&gt;c.       SBSN Musyarakah, yang diterbitkan berdasarkan Akad Musyarakah;&lt;br /&gt;d.       SBSN Istisna’, yang diterbitkan berdasarkan Akad Istisna';&lt;br /&gt;e.       SBSN yang diterbitkan berdasarkan Akad lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah;&lt;br /&gt;f.         SBSN yang diterbitkan berdasarkan kombinasi dari dua atau lebih dari Akad sebagaimana dimaksud pada huruf a, b, c, d dan e.&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUJUAN PENERBITAN SURAT BERHARGA SYARIAH NEGARA&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SBSN diterbitkan dengan tujuan untuk membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara termasuk membiayai pembangunan proyek.&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEWENANGAN DAN PELAKSANAAN PENERBITAN&lt;br /&gt;SURAT BERHARGA SYARIAH NEGARA&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;(1)     Kewenangan menerbitkan SBSN untuk tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 berada pada Pemerintah.&lt;br /&gt;(2)     Kewenangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan oleh Menteri.&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;(1)     Penerbitan SBSN dapat dilaksanakan secara langsung oleh Pemerintah atau melalui Perusahaan Penerbit SBSN.&lt;br /&gt;(2)     Penerbitan SBSN secara langsung oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan untuk penerbitan SBSN di dalam negeri.&lt;br /&gt;(3)     SBSN yang dapat diterbitkan baik oleh Pemerintah maupun Perusahaan Penerbit SBSN sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah semua jenis SBSN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3.&lt;br /&gt;(4)     Penerbitan SBSN yang dilakukan melalui Perusahaan Penerbit SBSN ditetapkan oleh Menteri.&lt;br /&gt;Pasal  7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal akan dilakukan penerbitan SBSN untuk tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Menteri terlebih dahulu berkonsultasi dengan Bank Indonesia.&lt;br /&gt;Pasal  8&lt;br /&gt;(1)     Penerbitan SBSN harus terlebih dahulu mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat pada saat pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperhitungkan sebagai bagian dari Nilai Bersih Maksimal Surat Berharga Negara yang akan diterbitkan oleh Pemerintah dalam satu tahun anggaran.&lt;br /&gt;(2)     Menteri berwenang menetapkan komposisi Surat Berharga Negara dalam valuta asing maupun rupiah, serta menetapkan komposisi Surat Berharga Negara dalam bentuk Surat Utang Negara maupun SBSN dan hal-hal lain yang diperlukan untuk menjamin penerbitan Surat Berharga Negara secara hati-hati.&lt;br /&gt;(3)     Dalam hal-hal tertentu, SBSN dapat diterbitkan melebihi Nilai Bersih Maksimal yang telah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Dewan Perwakilan Rakyat dan dilaporkan sebagai Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Pasal  9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)        Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) meliputi pembayaran semua kewajiban Imbalan dan Nilai Nominal yang timbul sebagai akibat penerbitan SBSN dimaksud serta Barang Milik Negara yang akan dijadikan sebagai Aset SBSN.&lt;br /&gt;(2)        Pemerintah wajib membayar Imbalan dan Nilai Nominal setiap SBSN, baik yang diterbitkan secara langsung oleh Pemerintah maupun Perusahaan Penerbit SBSN, sesuai dengan ketentuan dalam Akad penerbitan SBSN.&lt;br /&gt;(3)        Dana untuk membayar Imbalan dan Nilai Nominal sebagaimana dimaksud ayat (2) disediakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara setiap tahun sampai dengan berakhirnya kewajiban tersebut.&lt;br /&gt;(4)        Dalam hal pembayaran kewajiban Imbalan dan Nilai Nominal dimaksud melebihi perkiraan dana sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Pemerintah melakukan pembayaran dan menyampaikan realisasi pembayaran tersebut kepada Dewan Perwakilan Rakyat dalam pembahasan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.&lt;br /&gt;BAB V&lt;br /&gt;PENGGUNAAN BARANG MILIK NEGARA DALAM RANGKA PENERBITAN&lt;br /&gt;SURAT BERHARGA SYARIAH NEGARA&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;(1)         Barang Milik Negara dapat digunakan sebagai dasar penerbitan SBSN, yang untuk selanjutnya Barang Milik Negara dimaksud disebut sebagai Aset SBSN.&lt;br /&gt;(2)         Aset SBSN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:&lt;br /&gt;a.    tanah dan/atau bangunan&lt;br /&gt;b.    selain tanah dan/atau bangunan&lt;br /&gt;(3)         Jenis, nilai dan spesifikasi Barang Milik Negara yang akan digunakan sebagai Aset SBSN sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan oleh Menteri.&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)     Penggunaan Barang Milik Negara sebagai Aset SBSN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) dilakukan Menteri dengan cara menjual atau menyewakan Hak Manfaat atas Barang Milik Negara atau cara lain yang sesuai dengan Akad yang digunakan dalam rangka penerbitan SBSN.&lt;br /&gt;(2)     Aset SBSN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disewa kembali oleh Menteri berdasarkan suatu Akad.&lt;br /&gt;(3)     Dalam hal Barang Milik Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) sedang digunakan oleh instansi Pemerintah dan akan digunakan sebagai Aset SBSN, Menteri terlebih dahulu memberitahukan kepada instansi Pemerintah pengguna Barang Milik Negara.&lt;br /&gt;(4)     Jangka waktu penyewaan Aset SBSN oleh Pemerintah kepada Perusahaan Penerbit SBSN sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan paling lama 99 (sembilan puluh sembilan) tahun.&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;(1)     Menteri wajib membeli kembali Aset SBSN, membatalkan Akad sewa dan mengakhiri Akad penerbitan SBSN lainnya pada saat SBSN jatuh tempo.&lt;br /&gt;(2)     Dalam rangka pembelian kembali Aset SBSN, pembatalan Akad sewa dan pengakhiran Akad penerbitan SBSN lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Menteri membayar nilai nominal SBSN atau kewajiban pembayaran lain sesuai Akad penerbitan SBSN kepada pemegang SBSN melalui Perusahaan Penerbit SBSN.&lt;br /&gt;BAB VI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERUSAHAAN PENERBIT SURAT BERHARGA SYARIAH NEGARA&lt;br /&gt; DAN WALI AMANAT&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;(1)         Berdasarkan Undang-Undang ini dibentuk Perusahaan Penerbit SBSN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1).&lt;br /&gt;(2)         Perusahaan Penerbit SBSN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah badan hukum yang berkedudukan di dalam wilayah hukum Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;(3)         Perusahaan Penerbit SBSN bertanggungjawab kepada Menteri.&lt;br /&gt;(4)         Ketentuan mengenai pendirian, organ perusahaan, status, fungsi, tugas, kewenangan dan tanggung jawab, serta mekanisme kerja Perusahaan Penerbit SBSN diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)     Menteri menunjuk langsung pihak lain sebagai Wali Amanat, dalam hal SBSN diterbitkan secara langsung oleh Pemerintah.&lt;br /&gt;(2)     Perusahaan Penerbit SBSN bertindak sebagai Wali Amanat bagi pemegang SBSN, dalam hal SBSN diterbitkan oleh Perusahaan Penerbit. &lt;br /&gt;(3)     Perusahaan Penerbit SBSN dapat menunjuk pihak lain dengan persetujuan Menteri untuk membantu melaksanakan fungsi Wali Amanat sebagaimana dimaksud pada ayat (2).&lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;Wali Amanat sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 memiliki tugas sekurang-kurangnya:&lt;br /&gt;a.           melakukan perikatan dengan pihak-pihak lain untuk kepentingan pemegang SBSN;&lt;br /&gt;b.           mengawasi aset SBSN untuk kepentingan pemegang SBSN;&lt;br /&gt;c.           mewakili kepentingan-kepentingan lain pemegang SBSN, terkait dengan perikatan dalam rangka penerbitan SBSN. &lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan Penerbit SBSN sebagai Wali Amanat wajib memisahkan Aset SBSN dari kekayaan Perusahaan Penerbit SBSN untuk kepentingan pemegang SBSN.&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melaksanakan fungsi sebagai Wali Amanat, Perusahaan Penerbit SBSN harus menjaga kepentingan pemegang SBSN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB VII&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGELOLAAN SURAT BERHARGA SYARIAH NEGARA&lt;br /&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)       Pengelolaan SBSN baik yang diterbitkan secara langsung oleh Pemerintah maupun oleh Perusahaan Penerbit SBSN diselenggarakan oleh Menteri.&lt;br /&gt;(2)       Pengelolaan SBSN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi:&lt;br /&gt;a.       penetapan strategi dan kebijakan pengelolaan SBSN termasuk kebijakan pengendalian risiko;&lt;br /&gt;b.       perencanaan dan penetapan struktur portofolio SBSN;&lt;br /&gt;c.       penerbitan SBSN;&lt;br /&gt;d.       penjualan SBSN melalui lelang dan/atau tanpa lelang;&lt;br /&gt;e.       pembelian kembali SBSN sebelum jatuh tempo;&lt;br /&gt;f.         pelunasan SBSN;&lt;br /&gt;g.       aktivitas lain dalam rangka pengembangan Pasar Perdana dan Pasar Sekunder SBSN.&lt;br /&gt;(3)     Pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) merupakan bagian dari pengelolaan Surat Berharga Negara secara keseluruhan.&lt;br /&gt;Pasal  19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)        Dalam rangka mendukung penyelenggaraan pengelolaan SBSN sebagaimana dimaksud pada Pasal 18, Menteri membuka rekening yang merupakan bagian dari Rekening Kas Negara.&lt;br /&gt;(2)        Tata cara pembukaan dan pengelolaan rekening sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal  20&lt;br /&gt;SBSN wajib memiliki ketentuan dan syarat yang mengatur sekurang-kurangnya mengenai:&lt;br /&gt;a.         penerbit;&lt;br /&gt;b.         Nilai Nominal;&lt;br /&gt;c.         tanggal jatuh tempo;&lt;br /&gt;d.         tanggal pembayaran Imbalan;&lt;br /&gt;e.         besaran atau nisbah Imbalan;&lt;br /&gt;f.           frekuensi pembayaran Imbalan;&lt;br /&gt;g.         cara perhitungan pembayaran Imbalan;&lt;br /&gt;h.         denominasi;&lt;br /&gt;i.           jenis Barang Milik Negara yang dijadikan Aset SBSN;&lt;br /&gt;j.           penggunaan ketentuan hukum yang berlaku.&lt;br /&gt;Pasal  21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)     Dalam hal SBSN diterbitkan di dalam negeri, Menteri menunjuk Bank Indonesia sebagai agen penatausaha untuk melaksanakan kegiatan penatausahaan yang mencakup antara lain kegiatan pencatatan kepemilikan, kliring dan setelmen SBSN, baik dalam hal SBSN diterbitkan secara langsung oleh Pemerintah maupun yang diterbitkan melalui Perusahaan Penerbit SBSN.&lt;br /&gt;(2)     Menteri dapat meminta Bank Indonesia untuk menunjuk pihak lain sebagai agen penatausaha untuk melaksanakan kegiatan penatausahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).&lt;br /&gt;(3)     Dalam hal SBSN diterbitkan di luar negeri, Menteri menunjuk Bank Indonesia atau pihak lain sebagai agen penatausaha untuk melaksanakan kegiatan penatausahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).&lt;br /&gt;(4)     Dalam menyelenggarakan kegiatan penatausahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bank Indonesia atau pihak lain yang ditunjuk wajib membuat laporan pertanggungjawaban kepada Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)     Menteri menunjuk Bank Indonesia atau pihak lain sebagai agen pembayar, baik dalam hal SBSN diterbitkan secara langsung oleh Pemerintah maupun yang diterbitkan melalui Perusahaan Penerbit SBSN.&lt;br /&gt;(2)     Menteri dapat menunjuk pihak lain sebagai agen pembayar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan terlebih dahulu berkonsultasi dengan Bank Indonesia.&lt;br /&gt;(3)     Kegiatan agen pembayar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) antara lain meliputi:&lt;br /&gt;a.       menerima hasil penerbitan SBSN;&lt;br /&gt;b.       membayarkan hasil penjualan SBSN sebagaimana dimaksud pada huruf a kepada Pemerintah;&lt;br /&gt;c.       menerima Imbalan dan/atau Nilai Nominal SBSN dari pemerintah;&lt;br /&gt;d.       membayarkan Imbalan dan/atau Nilai Nominal SBSN sebagaimana dimaksud pada huruf c kepada pemegang SBSN;&lt;br /&gt;Pasal  23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri dapat menunjuk Bank Indonesia sebagai agen lelang SBSN, baik yang diterbitkan secara langsung oleh Pemerintah maupun melalui Perusahaan Penerbit SBSN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 24&lt;br /&gt;Menteri menetapkan ketentuan mengenai penerbitan dan penjualan SBSN, termasuk permintaan penilaian dan pernyataan kesesuaian syariah atas SBSN yang diterbitkan dari lembaga yang memiliki keahlian dan kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah.&lt;br /&gt;Pasal  25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan perdagangan SBSN dilakukan oleh otoritas yang melakukan pengaturan dan pengawasan di bidang pasar modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB VIII&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI&lt;br /&gt;Pasal  26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)         Menteri wajib menyelenggarakan penatausahaan dan membuat pertanggungjawaban atas pengelolaan SBSN.&lt;br /&gt;(2)         Pertanggungjawaban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan sebagai bagian dari pertanggungjawaban pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.&lt;br /&gt;Pasal  27&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri wajib secara berkala memublikasikan informasi tentang:&lt;br /&gt;a.           kebijakan pengelolaan SBSN dan rencana penerbitan SBSN yang meliputi perkiraan jumlah dan jadwal waktu penerbitan;&lt;br /&gt;b.           jumlah SBSN yang beredar beserta komposisinya, termasuk jenis valuta, struktur jatuh tempo dan besaran Imbalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 28&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsinya, otoritas yang melakukan pengaturan dan pengawasan di bidang pasar modal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, berwenang memperoleh data dan informasi mengenai SBSN secara langsung dari Bank Indonesia sebagai agen penatausaha SBSN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IX&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETENTUAN PIDANA&lt;br /&gt;Pasal  29&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)         Setiap orang yang meniru SBSN atau memalsukan SBSN dengan maksud memperdagangkan atau dengan sengaja memperdagangkan SBSN tiruan atau SBSN palsu, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling sedikit Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah).&lt;br /&gt;(2)         Setiap orang dengan sengaja menerbitkan SBSN tidak berdasarkan undang-undang ini, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 10 (sepuluh) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp40.000.000.000,00 (empat puluh miliar rupiah).&lt;br /&gt;Pasal 30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)     Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 dilakukan oleh korporasi maka tuntutan pidana ditujukan kepada:&lt;br /&gt;a.       korporasi; dan/atau&lt;br /&gt;b.       orang yang melakukan atau memberikan perintah baik sendiri atau bersama-sama untuk melakukan tindak pidana tersebut atau yang bertindak sebagai pimpinan atau melalaikan pencegahannya.&lt;br /&gt;(2)     Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap korporasi, pidana pokok yang dijatuhkan hanya berupa pidana denda yang besarannya sebagaimana dimaksud pada Pasal 29 ayat (1) atau ayat (2) ditambah 1/3 (satu per tiga) dari pidana denda sebagaimana dimaksud pada Pasal 29 ayat (1) atau ayat (2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB X&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETENTUAN PENUTUP&lt;br /&gt;Pasal  31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.&lt;br /&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan mengundangkan Undang-undang ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disahkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal ……….&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;                     &lt;br /&gt;DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta&lt;br /&gt;Pada tanggal...................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENTERI HUKUM DAN&lt;br /&gt;HAK ASASI MANUSIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAMID AWALUDDIN&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2805917360377116211-263262245303755076?l=www.ekonomi-islam.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/feeds/263262245303755076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2805917360377116211&amp;postID=263262245303755076' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/263262245303755076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/263262245303755076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/2008/06/ruu-sukuk.html' title='RUU Sukuk'/><author><name>jaharuddin.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00917718316384441930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_FHUL2vrDL3k/SIvRgKDFiRI/AAAAAAAAAak/IV5_ijUIFu0/S220/DSC03759.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2805917360377116211.post-5555919976672572893</id><published>2008-06-01T18:48:00.000-07:00</published><updated>2008-06-01T18:49:27.079-07:00</updated><title type='text'>Penjelasan RUU Sukuk</title><content type='html'>PENJELASAN&lt;br /&gt;ATAS&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR ..........        TAHUN ...........&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;SURAT BERHARGA SYARIAH NEGARA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.            UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan pelaksanaan program pembangunan nasional dalam mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 perlu disertai dengan, antara lain, upaya pengelolaan keuangan negara secara optimal. Hal tersebut dapat dicapai melalui peningkatan efisiensi dalam pengelolaan aset-aset negara dan pengembangan sumber-sumber pembiayaan anggaran negara, guna meningkatkan daya dukung APBN dalam menggerakkan pembangunan sektor ekonomi secara berkesinambungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan berbagai alternatif instrumen pembiayaan anggaran negara, khususnya instrumen pembiayaan yang berdasarkan prinsip syariah guna memobilisasi dana publik secara luas perlu segera dilaksanakan. Upaya pengembangan instrumen pembiayaan yang berdasarkan prinsip syariah tersebut, antara lain bertujuan untuk: (1) memperkuat dan meningkatkan peran sistem keuangan syariah di dalam negeri; (2) memperluas basis pembiayaan anggaran negara; (3) menciptakan benchmark instrumen keuangan syariah  baik di pasar keuangan syariah domestik maupun internasional; (4) memperluas  dan mendiversifikasi  basis investor; (5) mengembangkan alternatif instrumen investasi baik bagi investor dalam negeri maupun luar negeri yang mencari instrumen keuangan syariah (syariah-compliant instruments); dan (6) mendorong pertumbuhan pasar keuangan syariah di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep keuangan Islam (Islamic finance) didasarkan pada prinsip moralitas dan keadilan. Oleh karena itu, sesuai dengan dasar operasionalnya yakni syariah Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadist serta Ijma, instrumen pembiayaan syariah harus selaras dan memenuhi prinsip-prinsip syariah, yaitu antara lain transaksi yang dilakukan oleh para pihak harus bersifat adil, halal, thayyib, dan maslahat. Selain itu, transaksi dalam keuangan Islam sesuai dengan syariah harus terbebas dari unsur larangan berikut: (1) Riba, yaitu unsur bunga atau  return  yang diperoleh dari penggunaan uang untuk mendapatkan uang (money for money); (2) Maysir, yaitu unsur spekulasi, judi, dan sikap untung-untungan; dan (3) Gharar, yaitu unsur ketidakpastian yang antara lain terkait dengan penyerahan, kualitas, kuantitas dan sebagainya. Karakteristik lain dari penerbitan instrumen keuangan syariah yaitu memerlukan adanya transaksi pendukung (underlying transaction), yang tata cara dan mekanismenya bersifat khusus dan berbeda dengan transaksi keuangan pada umumnya. Oleh karena itu, mengingat instrumen keuangan berdasarkan prinsip syariah sangat berbeda dengan instrumen keuangan konvensional,  untuk keperluan penerbitan instrumen pembiayaan syariah tersebut perlu adanya pengaturan secara khusus, baik yang menyangkut instrumen maupun perangkat yang diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bentuk instrumen keuangan syariah yang telah banyak diterbitkan baik oleh korporasi maupun negara adalah surat berharga berdasarkan prinsip syariah, atau secara internasional dikenal dengan istilah sukuk. Instrumen keuangan ini berbeda dengan surat berharga konvensional. Perbedaan yang prinsip antara lain surat berharga berdasarkan prinsip syariah menggunakan konsep imbalan bukan bunga sebagaimana dikenal dalam instrumen keuangan konvensional dan diperlukannya sejumlah tertentu aset yang digunakan sebagai dasar untuk melakukan transaksi dengan menggunakan Akad berdasarkan prinsip-prinsip syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode atau struktur pembiayaan berdasarkan prinsip syariah pada dasarnya mengikuti Akad yang digunakan dalam melakukan transaksi. Beberapa jenis Akad yang dapat digunakan dalam penerbitan surat berharga syariah, antara lain meliputi Ijarah, Mudharabah, Musharakah, Istisna’ dan Akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah serta kombinasi dari dua atau lebih dari Akad tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan semakin meluasnya penggunaan prinsip syariah di pasar keuangan dalam dan luar negeri, yang ditandai dengan semakin banyaknya negara yang menerbitkan instrumen pembiayaan berdasarkan prinsip syariah (sovereign sukuk) dan semakin meningkatnya  jumlah investor dalam instrumen keuangan syariah, Indonesia perlu memanfaatkan momentum melalui penerbitan SBSN baik di pasar domestik maupun di pasar internasional sebagai alternatif sumber pembiayaan. Hal tersebut sejalan dengan semakin terbatasnya daya dukung APBN untuk menggerakkan pembangunan sektor ekonomi secara berkesinambungan dan belum optimalnya pemanfaatan instrumen pembiayaan lainnya. Dengan bertambahnya instrumen Surat Berharga Negara yang terdiri dari Surat Utang Negara dan SBSN, diharapkan kemampuan Pemerintah dalam pengelolaan anggaran negara terutama dari sisi pembiayaan akan semakin meningkat. Selain itu, adanya SBSN akan dapat memenuhi kebutuhan portofolio investasi lembaga-lembaga keuangan syariah antara lain perbankan syariah, reksadana syariah dan asuransi syariah. Dengan bertambahnya jumlah instrumen keuangan berdasarkan prinsip syariah, diharapkan akan mendorong pertumbuhan lembaga-lembaga keuangan syariah di dalam negeri. Sejalan dengan itu, dalam rangka memberikan dasar hukum penerbitan instrumen keuangan berdasarkan prinsip syariah dan untuk mendukung perkembangan pasar keuangan syariah khususnya di dalam negeri, perlu dilakukan penyusunan Undang-undang tentang SBSN, yang mengatur secara khusus mengenai penerbitan dan pengelolaan SBSN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SBSN ini merupakan surat berharga dalam mata uang rupiah maupun valuta asing berdasarkan prinsip syariah yang diterbitkan oleh Negara Republik Indonesia, baik dilaksanakan secara langsung oleh Pemerintah atau melalui Perusahaan Penerbit SBSN, sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap Aset SBSN, serta wajib dibayar atau dijamin pembayaran Imbalan dan Nilai Nominalnya oleh Negara Republik Indonesia, sesuai dengan ketentuan perjanjian yang mengatur penerbitan SBSN tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang tentang SBSN ini  secara garis besar mengatur hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.       Transparansi pengelolaan SBSN dalam kerangka kebijakan fiskal dan kebijakan pengembangan pasar SBSN dengan mengatur lebih lanjut tujuan penerbitannya dan jenis-jenis Akad yang digunakan.&lt;br /&gt;b.       Kewenangan Pemerintah untuk menerbitkan SBSN, baik dilakukan secara langsung oleh Pemerintah yang didelegasikan kepada Menteri, ataupun dilaksanakan melalui Perusahaan Penerbit SBSN yang dibentuk oleh Menteri.&lt;br /&gt;c.       Kewenangan Pemerintah untuk menggunakan Barang Milik Negara sebagai dasar penerbitan SBSN (underlying asset).&lt;br /&gt;d.       Kewenangan Pemerintah untuk mendirikan dan menetapkan tugas-tugas Badan Hukum yang akan melaksanakan fungsi sebagai Perusahaan Penerbit SBSN;&lt;br /&gt;e.       Kewenangan Wali Amanat untuk bertindak mewakili kepentingan Pemegang SBSN;&lt;br /&gt;f.         Kewenangan Pemerintah untuk membayar semua kewajiban yang timbul dari penerbitan SBSN, baik yang diterbitkan secara langsung oleh Pemerintah maupun melalui Perusahaan Penerbit SBSN, secara penuh dan tepat waktu sampai berakhirnya kewajiban tersebut.&lt;br /&gt;g.       Landasan hukum bagi pengaturan lebih lanjut atas tata cara dan mekanisme penerbitan SBSN di pasar perdana maupun perdagangan SBSN di pasar sekunder agar pemodal memperoleh kepastian untuk memiliki dan memperdagangkan SBSN secara mudah dan aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang ini tidak mengatur hal-hal yang berkaitan dengan perjanjian pinjaman (loan agreement) baik yang bersifat bilateral maupun multilateral yang dibuat oleh Pemerintah dengan pihak lain, baik dalam negeri maupun luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan hal-hal di atas, perlu diperhatikan pula peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Undang-Undang ini, antara lain, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3843) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4357), Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4287), dan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;        Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;         Ayat (1)&lt;br /&gt;        SBSN dengan warkat adalah surat berharga berdasarkan prinsip syariah yang kepemilikannya berupa sertifikat baik atas nama maupun atas unjuk. Sertifikat atas nama adalah sertifikat yang nama pemiliknya tercantum, sedangkan sertifikat atas unjuk adalah sertifikat yang tidak mencantumkan nama pemilik sehingga setiap orang yang menguasainya adalah pemilik yang sah. SBSN tanpa warkat atau scripless adalah surat berharga berdasarkan prinsip syariah yang kepemilikan-nya dicatat secara elektronis (book-entry system). Dalam hal SBSN tanpa warkat, bukti kepemilikan yang otentik dan sah adalah pencatatan kepemilikan secara elektronis. Cara pencatatan secara  elektronis dimaksudkan agar pengadministrasian data kepemilikan (registry) dan penyelesaian transaksi perdagangan SBSN di Pasar Sekunder dapat diselenggarakan secara efisien, cepat, aman, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Ayat (2)&lt;br /&gt;                SBSN yang diperdagangkan adalah SBSN yang diperjualbelikan di Pasar Sekunder baik di dalam maupun di luar negeri. Perdagangan dapat dilakukan melalui bursa dan/atau di luar bursa yang biasa disebut over the counter (OTC). SBSN yang tidak diperdagangkan adalah (1) SBSN yang tidak dapat diperjualbelikan di Pasar Sekunder dan biasanya diterbitkan secara khusus untuk pemodal institusi tertentu, baik domestik maupun asing, yang berminat untuk memiliki SBSN sesuai dengan kebutuhan spesifik dari portofolio investasinya dan (2) SBSN yang karena sifat Akad penerbitannya tidak dapat diperdagangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;         Huruf a&lt;br /&gt;         Cukup jelas&lt;br /&gt;         Huruf b&lt;br /&gt;         Cukup jelas&lt;br /&gt;         Huruf c&lt;br /&gt;         Cukup jelas&lt;br /&gt;         Huruf d&lt;br /&gt;         Cukup jelas&lt;br /&gt;         Huruf e&lt;br /&gt;          Cukup jelas.&lt;br /&gt;         Huruf f&lt;br /&gt;         Kombinasi Akad SBSN antara lain dapat dilakukan antara Mudharabah dengan Ijarah, Musyarakah dengan Ijarah, dan Istisna’ dengan Ijarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4 &lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5 &lt;br /&gt;         Cukup jelas&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Ayat (1)&lt;br /&gt;Penerbitan SBSN baik oleh Pemerintah maupun Perusahaan Penerbit SBSN dimaksud dilakukan untuk kepentingan Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Ayat (2)&lt;br /&gt;       Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Ayat (3)&lt;br /&gt;       Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Ayat (4)&lt;br /&gt;       Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;         Pemerintah mengadakan konsultasi dengan Bank Indonesia pada saat merencanakan penerbitan SBSN, sebagai bagian tidak terpisahkan dari rencana penerbitan Surat Berharga Negara untuk satu tahun anggaran. Konsultasi ini dimaksudkan untuk mengevaluasi implikasi moneter dari penerbitan Surat Berharga Negara, agar keselarasan antara kebijakan fiskal, termasuk manajemen utang, dan kebijakan moneter dapat tercapai. Pendapat Bank Indonesia tersebut menjadi masukan di dalam pengambilan keputusan oleh Pemerintah agar penerbitan Surat Berharga Negara dimaksud dapat dilakukan tepat waktu dan dilakukan dengan persyaratan yang dapat diterima pasar serta menguntungkan Pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;         Ayat (1)&lt;br /&gt;         Persetujuan tersebut didahului dengan mengajukan rencana penerbitan dan pelunasan dan/atau pembelian kembali yang disampaikan bersamaan dengan penyampaian Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Ayat (2)&lt;br /&gt;                 Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Ayat (3)&lt;br /&gt;         Yang dimaksud dengan hal-hal tertentu antara lain adalah penerbitan SBSN dalam rangka menutup kekurangan pembiayaan anggaran, pembangunan proyek dan/atau pengelolaan portofolio Surat Berharga Negara menjelang akhir tahun anggaran karena pertimbangan kondisi dan perkembangan pasar keuangan yang tidak dapat diantisipasi sebelumnya sehingga jumlah Nilai Bersih Maksimal Surat Berharga Negara yang telah disetujui terlampaui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;         Ayat (1)&lt;br /&gt;         Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Ayat (2)&lt;br /&gt;               Cukup jelas&lt;br /&gt;                &lt;br /&gt;         Ayat (3)&lt;br /&gt;               Semua kewajiban Imbalan dan Nilai Nominal yang timbul akibat penerbitan SBSN dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara setiap tahun sampai dengan berakhirnya kewajiban tersebut. Perkiraan dana yang perlu dialokasikan untuk pembayaran kewajiban untuk satu tahun anggaran disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat untuk diperhitungkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun yang bersangkutan.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;         Ayat (4)&lt;br /&gt;               Pada saat jatuh tempo, pembayaran kewajiban Imbalan dan Nilai Nominal dapat melebihi perkiraan anggaran disebabkan oleh antara lain perbedaan perkiraan kurs (nilai tukar) dan/atau tingkat bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;         Ayat (1)&lt;br /&gt;         Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Ayat (2) huruf a dan b&lt;br /&gt;               Tanah dan/atau bangunan yang dimaksud dalam ayat ini termasuk proyek yang akan atau sedang dibangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;               Menteri selaku Pengelola Barang Milik Negara menetapkan secara rinci jenis, nilai dan spesifikasi Barang Milik Negara yang akan dijadikan sebagai Aset SBSN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Pemindahtanganan Barang Milik Negara bersifat khusus dan berbeda dengan pemindahtanganan Barang Milik Negara sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No.1 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Sifat pemindahtanganan dimaksud, antara lain: (i) penjualan dan/atau penyewaan dilakukan hanya atas Hak Manfaat Barang Milik Negara; (ii) tidak terjadi pemindahan hak kepemilikan (legal title) Barang Milik Negara; dan (iii) tidak dilakukan pengalihan fisik Barang Milik Negara sehingga tidak mengganggu penyelenggaraan tugas  Pemerintahan.&lt;br /&gt;Penjualan dan penyewaan Hak Manfaat Barang Milik Negara dilakukan dalam struktur SBSN Ijarah.&lt;br /&gt;Cara lain yang sesuai dengan Akad yang digunakan dalam rangka penerbitan SBSN antara lain, penggunaan Barang Milik Negara sebagai bagian penyertaan dalam rangka kerjasama usaha dalam struktur SBSN Musharakah (partnership).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;               Penggunaan Barang Milik Negara sebagai Aset SBSN tidak mengurangi kewenangan instansi Pengguna Barang Milik Negara untuk tetap menggunakan Barang Milik Negara dimaksud, sehingga tanggung jawab untuk pengelolaan Barang Milik Negara ini tetap melekat pada instansi Pengguna Barang Milik Negara sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;               Berdasarkan struktur SBSN Akad Ijarah tertentu, jangka waktu penyewaan Aset SBSN dari Pemerintah kepada Perusahaan Penerbit SBSN lebih panjang dari jangka waktu penyewaan Aset SBSN dari Perusahaan Penerbit SBSN kepada Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt; Pasal 12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Ayat (1)&lt;br /&gt;Akad penerbitan SBSN lainnya adalah Akad selain SBSN yang menggunakan Akad Ijarah antara lain SBSN yang menggunakan Akad Musharakah, Mudharaba dan Istisna’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Ayat (2)&lt;br /&gt;Kewajiban pembayaran lain sesuai Akad penerbitan SBSN antara lain berupa sisa nilai Nominal SBSN yang pelunasannya dilakukan dengan cara amortisasi dan Imbalan yang belum dibayarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Pertanggungjawaban dimaksud hanya terkait dengan operasional Perusahaan Penerbit SBSN dan pelaksanaan penerbitan SBSN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;       Ayat (1)&lt;br /&gt;            Pihak lain yang dapat ditunjuk sebagai Wali Amanat antara lain adalah lembaga keuangan yang telah mendapat izin dari otoritas yang berwenang dan lembaga lain yang dapat melakukan fungsi sebagai waliamanat.&lt;br /&gt;          Perusahaan Penerbit SBSN sebagai Wali Amanat pada dasarnya melaksanakan suatu kewajiban hukum yang timbul akibat adanya pengalihan kepemilikan Hak Manfaat atas suatu aset dari Pemerintah kepada pihak lain yang bertindak sebagai Wali Amanat untuk kepentingan Pemegang SBSN selaku penerima manfaat (beneficiaries).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Ayat (2)&lt;br /&gt;          Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;                Pihak lain yang dapat ditunjuk untuk membantu pelaksanaan fungsi sebagai Wali Amanat antara lain adalah lembaga keuangan yang telah mendapat izin dari otoritas yang berwenang dan lembaga lain yang dapat melakukan fungsi sebagai waliamanat.&lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;         Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;         Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;         Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;         Ayat (1)&lt;br /&gt;               Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Ayat (2)&lt;br /&gt;               Huruf a&lt;br /&gt;                                       Cukup jelas&lt;br /&gt;               Huruf b&lt;br /&gt;                                       Cukup jelas&lt;br /&gt;               Huruf c&lt;br /&gt;                                       Cukup jelas&lt;br /&gt;               Huruf d&lt;br /&gt;                                       Cukup jelas&lt;br /&gt;               Huruf e&lt;br /&gt;Apabila diatur di dalam Akad, Menteri dapat melakukan pembelian kembali SBSN, baik yang diterbitkan secara langsung oleh Pemerintah maupun melalui Perusahaan Penerbit SBSN, sebelum jatuh tempo. Pembelian kembali atas sebagian dari nilai nominal SBSN tidak disertai dengan pelunasan SBSN dan/atau pembatalan Akad penerbitan SBSN.&lt;br /&gt;                  Huruf f&lt;br /&gt;Pelunasan sebagian atau seluruh nilai nominal SBSN, baik yang diterbitkan secara langsung oleh Pemerintah maupun melalui Perusahaan Penerbit SBSN sebelum jatuh tempo, hanya dapat dilakukan apabila diatur di dalam Akad.&lt;br /&gt;                           Huruf g&lt;br /&gt;                                       Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;               Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 19&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;               Menteri membuka rekening yang diperlukan baik untuk menampung hasil penjualan SBSN maupun untuk penyediaan dana bagi pembayaran imbalan dan Nilai Nominal SBSN;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;               Tata cara pembukaan dan pengelolaan rekening yang dimaksud dalam Ayat ini mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan dibidang perbendaharaan negara, sedangkan tata cara pembukaan rekening di Bank Indonesia mengikuti ketentuan Bank Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 20&lt;br /&gt;         Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 21&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;         Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;               Penunjukan pihak lain oleh Bank Indonesia sebagai agen penatausaha untuk melaksanakan kegiatan penatausahaan, harus terlebih dahulu berkonsultasi dengan Menteri dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dibidang pasar modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Ayat (3)&lt;br /&gt;                Cukup jelas      &lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;                Laporan pertanggungjawaban kepada Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Ayat ini disampaikan kepada Menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 22&lt;br /&gt;          Cukup Jelas&lt;br /&gt;Pasal 23&lt;br /&gt;        Lelang SBSN dilaksanakan oleh Bank Indonesia sampai pada saat Pemerintah dinilai telah siap serta mampu secara teknis untuk melaksanakan lelang secara sendiri atau bersama Bank Indonesia.&lt;br /&gt;Pasal 24&lt;br /&gt;Dalam ketentuan penerbitan dan penjualan SBSN, antara lain, diatur ketentuan mengenai jadwal pelaksanaan penerbitan dan penjualan, kriteria peserta lelang SBSN baik yang diterbitkan secara langsung oleh Pemerintah maupun melalui Perusahaan Penerbit SBSN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 25&lt;br /&gt;         Pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan perdagangan SBSN dimaksudkan untuk memberikan perlindungan terhadap kepentingan pemodal dan para pelaku pasar. Kedua hal tersebut diperlukan agar kegiatan perdagangan SBSN dapat dilaksanakan secara efisien dan sehat. Pengaturan dilaksanakan melalui penerbitan berbagai ketentuan, antara lain, mengenai transparansi data dan informasi penerbitan serta mengenai tata cara perdagangan SBSN. Pengaturan dan pengawasan merupakan upaya untuk memperoleh keyakinan akan ketaatan para pelaku pasar terhadap ketentuan yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 26&lt;br /&gt;         Ayat (1)&lt;br /&gt;         Penatausahaan mencakup kegiatan administrasi dan pembukuan (akuntansi) semua transaksi yang berkaitan dengan pengelolaan SBSN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Ayat (2)&lt;br /&gt;               Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 27&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 28&lt;br /&gt;Permintaan data dan informasi mengenai SBSN kepada BI disampaikan secara tertulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 29&lt;br /&gt;         Ayat (1)&lt;br /&gt;         Yang dimaksud dengan setiap orang adalah orang perseorangan dan/atau korporasi. Korporasi adalah kumpulan orang dan/atau kekayaan yang terorganisasi baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum. Yang dimaksud dengan SBSN tiruan atau SBSN palsu adalah surat berharga yang sengaja diterbitkan dengan bentuk yang mirip atau sama dengan SBSN yang sah, dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Pemalsuan data dalam perdagangan SBSN tanpa warkat, termasuk tindakan pemalsuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Ayat (2)&lt;br /&gt;                              Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 30&lt;br /&gt;          Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 31&lt;br /&gt;          Cukup jelas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR …………………&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2805917360377116211-5555919976672572893?l=www.ekonomi-islam.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/feeds/5555919976672572893/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2805917360377116211&amp;postID=5555919976672572893' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/5555919976672572893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/5555919976672572893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/2008/06/penjelasan-ruu-sukuk.html' title='Penjelasan RUU Sukuk'/><author><name>jaharuddin.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00917718316384441930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_FHUL2vrDL3k/SIvRgKDFiRI/AAAAAAAAAak/IV5_ijUIFu0/S220/DSC03759.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2805917360377116211.post-648315301423925948</id><published>2008-05-28T22:27:00.000-07:00</published><updated>2008-05-28T22:33:31.075-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pasar Modal Syariah'/><title type='text'>Sukuk Syariah yang Terganjal Undang-Undang</title><content type='html'>Oleh: Kun Wahyu Winasis dan Diah Amelia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WACANA penerbitan sukuk atau obligasi negara syariah sesungguhnya sudah beredar kencang sejak 2 tahun terakhir. Bahkan sudah banyak investor lokal maupun asing,”terutama dari negara Timur Tengah” yang siap membeli surat berharga tersebut. Tapi apa mau dikata, pemerintah ”khususnya Departemen Keuangan” sepertinya masih enggan menanggapi keinginan para pemodal tadi. Entah kenapa. Padahal, kata seorang pejabat di Bank Indonesia, surat utang syariah bisa menjadi salah satu instrumen alternatif bagi pemerintah guna mendapatkan dana. â€Momentum seperti ini mestinya bisa dimanfaatkan,â€ tuturnya. Asal tahu saja, obligasi syariah ini termasuk dagangan yang laris manis. Lihat saja, sampai Juli lalu, total surat utang syariah yang diterbitkan 17 emiten telah mencapai Rp 2,21 triliun alias tumbuh hampir 200% ketimbang 3 tahun silam. Pada tahun ini, memang, ada kecenderungan direm. Sampai Juli kemarin, baru ada satu emiten yang menerbitkan sukuk dengan nilai Rp 200 miliar. Namun, kabarnya, sampai akhir tahun ada beberapa emiten yang berniat menerbitkannya. Di antaranya PLN dengan nilai US$ 1 miliar dan WOM Finance senilai Rp 300 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Rahmat Waluyanto, Direktur Direktorat SUN Departemen Keuangan, pemerintah sesungguhnya berniat secepatnya menerbitkan instrumen tersebut. Masalahnya, regulasi yang mengatur ketentuan itu belum ada. Padahal, sebagai instrumen berbasis syariah, sukuk jelas memiliki tipikal dan aturan yang berbeda dengan surat utang negara biasa. Misalnya mengenai UU Surat Berharga Syariah Negara. Rencananya, kata Rahmat, RUU-nya baru akan masuk ke parlemen dalam dua bulan ini. Pembahasan RUU tadi diyakini akan berjalan alot. Salah satunya menyangkut pembentukan special purpose vehicle (SPV) yang kelak akan mengelola asetâ€”baik fisik maupun hak pemanfaatannyaâ€”yang dijadikan jaminan penerbitan sukuk. Padahal, tanpa SPV, katanya, sukuk bisa dianggap barang haram. Lantas kenapa pembentukan SPV sulit dilakukan? Rahmat punya beberapa argumentasi. Pertama, jika SPV tadi bentuknya merupakan BUMN, secara otomatis lembaga ini harus tunduk pada UU No. 19 Tahun 2003, yang menetapkan bahwa BUMN harus diawasi, diatur, disupervisi, dan dibina oleh Menneg BUMN. Padahal, jika berkaitan dengan sukuk ataupun SUN (sesuai UU No. 1 Tahun 2004), mestinya hal itu diatur dan dikendalikan oleh Menkeu sebagai bendahara negara. Kedua, apabila SPV tadi berbentuk PT, maka sesuai undang-undang, perusahaan ini harus melakukan registrasi dan memiliki laporan keuangan yang diaudit oleh akuntan publik. Padahal, sebuah perusahaan yang baru dibentuk tentu sulit memenuhi persyaratan tersebut. â€Makanya harus ada diskusi yang intensif dengan DPR. Sehingga masalah ini bisa dituntaskan tanpa melanggar regulasi,â€ tutur Rahmat. Posisi SPV sendiri, lanjut Rahmat, selain mewakili pemerintah, juga bertanggung jawab kepada investor. Jadi, kalau terjadi dispute atau default, maka lembaga itulah yang akan mewakili investor untuk bernegosiasi dengan pemerintah. Menurut Mulia P. Nasution, Dirjen Perbendaharaan Negara Depkeu, bisa saja SPV yang ada kelak posisinya disamakan dengan kedudukan Perusahaan Pengelolaan Aset (PPA) yang mengelola dan memelihara aset-aset milik pemerintah serta bertanggung jawab langsung kepada Menkeu. â€Mungkin konsep seperti PPA itu bisa diterapkan dalam pembentukan SPV ini,â€ ujar Mulia. Tapi, terlepas dari berbelitnya aturan yang ada, Harisman, Direktur Direktorat Perbankan Syariah BI, mengatakan bahwa kebutuhan terhadap sukuk sudah sangat mendesak. Selain sudah banyak investor Timur Tengah yang siap berinvestasi, keberadaan instrumen ini juga diyakini bisa mendukung pertumbuhan perbankan syariah pascaberlakunya kebijakan office channeling. Jadi, kenapa harus ditunda-tunda?&lt;br /&gt;di kutip dari : majalahtrust.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2805917360377116211-648315301423925948?l=www.ekonomi-islam.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/feeds/648315301423925948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2805917360377116211&amp;postID=648315301423925948' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/648315301423925948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/648315301423925948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/2008/05/sukuk-syariah-yang-terganjal-undang.html' title='Sukuk Syariah yang Terganjal Undang-Undang'/><author><name>jaharuddin.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00917718316384441930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_FHUL2vrDL3k/SIvRgKDFiRI/AAAAAAAAAak/IV5_ijUIFu0/S220/DSC03759.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2805917360377116211.post-4129292337756452215</id><published>2008-05-28T06:38:00.001-07:00</published><updated>2008-05-28T22:32:53.952-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Zakat'/><title type='text'>Yang Profesional dari Rumah Zakat Indonesia</title><content type='html'>Jum'at, 29 September 2006 14:19 WIB&lt;br /&gt;Reporter : Eriez M Rizal&lt;br /&gt;BANDUNG--MIOL: Pengelolaan Badan Amil Zakat secara profesional menggunakan manajemen modern, serta penerapan transparansi, dan akuntabilitas, selama ini ditempuh oleh Rumah Zakat Indonesia. Cara tersebut dilakukan agar masyarakat umum benar-benar mempercayai keberadaan lembaga (zakat) tersebut, serta dapat memahami manajemen yang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah dan cara pengelolaan secara profesional terhadap lembaga zakat sempat dilontarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam suatu acara. Menurut SBY masyarakat harus benar-benar faham dengan cara kerja BAZ, sehingga seluruh elemen yang terkait dengan kegiatan lembaga zakat ini lebih dapat mempercayainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Realitas penyerapan dana zakat, serta pencanangan yang dilakukan Presiden tentang bulan Zakat, merupakan sebuah tantangan bagi Rumah Zakat Indonesia untuk terus membuat inovasi-inovasi baru agar lembaga ini ke depan dapat menjadi lembaga profesional, serta dapat memberikan kontribusi signifikan bagi kemandirian masyarakat," ujar salah seorang pengurus Rumah Zakat Indonesia, Yesi Mariska Indira, di Bandung, Jumat (29/9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara nasional potensi zakat Indonesia per tahun mencapai Rp20 triliun. Hal itu, jelas Yesi, berdasarkan penelitian PIRAC (organosasi sumber daya nirlaba dan independen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi tersebut, belum seluruhnya terserap oleh semua stakeholder zakat di Indonesia, baik lembaga yang memiliki orientasi untuk mengumpulkan, serta mendistribusikannya, maupun para mustahik (penerima zakat) yang memerlukan bantuan dana tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang ada, hanya mampu menyerap 2 dari keseluruhan potensi zakat. Ini jelas sebuah angka yang belum menunjukkan pemberdayaan potensi secara optimal negeri ini untuk bangkit merekonstruksi diri secara mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dapat dilihat dari upaya revitalisasi Indonesia pasca krisis multi dimensi maupun bencana nasional, yang begitu banyak mengharapkan atau membutuhkan uluran tangan dari bangsa-bangsa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan budaya zakat di masyarakat, Rumah Zakat Indonesia mengimplementasikan dalam rangkaian Road Show kampanye lima Kota, dengan mengambil tajuk 'Gelar Budaya Zakat'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak acara Road Show ini akan digelar di Bandung, Sabtu (30/9), di Gedung Sasana Budaya Ganesha (SABUGA), Jl. Taman Sari No. 73 Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema yang diusung dalam acara ini adalah 'Menuju 20 Triliun Zakat Nasional' menghadirkan Ketua Presidium ICMI Pusat, Marwah Daud Ibrahim, Vice President Bank Permata Syariah, Ismi Kushartanto, Dewan Syariah Nasional Indonesia, Setyawan Budi Utomo, dan Dirjen Pemberdayaan Depsos Gunawan Sumodiningrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ini diharapkan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat tentang potensi pemberdayaan zakat yang begitu besar, serta layanan Rumah Zakat Indonesia untuk memudahkan transaksi zakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak hanya pengumpulan dana yang menjadi fokus bahasan, tapi juga bagaiman inovasi program penyaluran dapat lebih ditingkatkan agar senantiasa tepat sasaran," ujar Yesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai persembahan lain dari Rumah Zakat Indonesia, acara ini juga akan dimeriahkan penampilan Opick sebagai rangkaian promo tour album terbarunya, Indri AFI Indosiar, Tim Angklung Asmaul Husna SMP 28 Bandung, Heru Herdiana, Ebiet, serta penampilan biola dari Nia Violin. (EM/SG/OL-02).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2805917360377116211-4129292337756452215?l=www.ekonomi-islam.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/feeds/4129292337756452215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2805917360377116211&amp;postID=4129292337756452215' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/4129292337756452215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/4129292337756452215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/2008/05/yang-profesional-dari-rumah-zakat.html' title='Yang Profesional dari Rumah Zakat Indonesia'/><author><name>jaharuddin.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00917718316384441930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_FHUL2vrDL3k/SIvRgKDFiRI/AAAAAAAAAak/IV5_ijUIFu0/S220/DSC03759.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2805917360377116211.post-7471978049367638292</id><published>2008-05-28T06:34:00.000-07:00</published><updated>2008-05-28T06:35:55.628-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wakaf'/><title type='text'>Wakaf Uang Perlu Sosialisasi</title><content type='html'>Jumat, 26 Oktober 2007 00:03 WIB&lt;br /&gt;Wakaf uang atau disebut juga wakaf tunai atau cash waqf atau wakaf annuqud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adalah modalnya dikekalkan sedangkan keuntungan investasinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimanfaatkan sesuai dengan tujuan pemberi wakaf (Mohd Fauzi Mustafa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2006). Habib Nazir dan Muhammad Hasanuddin (2004) menekankan bahwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;modal dikekalkan yang diberikan wakif untuk tujuan mengharapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semata-mata ridha Allah. Dana yang digolongkan wakaf tunai ini akan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diinvestasikan agar dapat menghasilkan keuntungan dan keuntungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tersebut kemudian dimanfaatkan sesuai dengan tujuan wakaf oleh wakif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WASPADA Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Suhrawardi K Lubis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakaf uang atau disebut juga wakaf tunai atau cash waqf atau wakaf annuqud adalah modalnya dikekalkan sedangkan&lt;br /&gt;keuntungan investasinya dimanfaatkan sesuai dengan tujuan pemberi wakaf (Mohd Fauzi Mustafa, 2006). Habib Nazir&lt;br /&gt;dan Muhammad Hasanuddin (2004) menekankan bahwa modal dikekalkan yang diberikan wakif untuk tujuan&lt;br /&gt;mengharapkan semata-mata ridha Allah. Dana yang digolongkan wakaf tunai ini akan diinvestasikan agar dapat&lt;br /&gt;menghasilkan keuntungan dan keuntungan tersebut kemudian dimanfaatkan sesuai dengan tujuan wakaf oleh wakif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya wakaf tunai bertujuan untuk menghimpun dana abadi yang bersumber dari umat, yang kemudian dapat&lt;br /&gt;dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Wakaf tunai memberi kesempatan kepada setiap orang untuk bersedekah&lt;br /&gt;jariah dan mendapatkan pahala yang tidak terputus tanpa harus menungu menjadi kaya, orang bisa berwakaf dengan&lt;br /&gt;jumlah tertentu yang ditetapkan pengelola wakaf sebagai patokan penerbitan Sertifikat Wakaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakaf yang terkumpul kemudian diinvestasikan ke berbagai bidang usaha yang halal dan produktif, dan keuntungan&lt;br /&gt;yang diperoleh dapat digunakan untuk pembangunan umat dan bangsa secara keseluruhan (Tabung Wakaf, 2006).&lt;br /&gt;Wakaf tunai ternyata sudah dilaksanakan sejak awal abad kedua hijriah. Imam azZuhri (wafat 124 H) salah seorang&lt;br /&gt;ulama terkemuka dan peletak dasar tadwin al hadits memfatwakan, dianjurkan wakaf dinar dan dirham untuk&lt;br /&gt;pembangunan sarana dakwah, sosial, dan pendidikan umat Islam. Adapun caranya dengan menjadikan uang tersebut&lt;br /&gt;sebagai modal usaha kemudian menyalurkan keuntungannya sebagai wakaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakaf Uang di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakaf merupakan bentuk muamalah yang bersifat kebendaan yang sudah sangat lama dikenal, dan telah ada semenjak&lt;br /&gt;kehidupan bermasyarakat itu ada, setiap komunitas manusia selalu menyediakan fasilitas yang bersifat pelayanan umum&lt;br /&gt;yang dibutuhkan manusia secara bersama. Seperti tempat ibadah, jalan raya, sumber air serta fasilitas umum lainnya&lt;br /&gt;merupakan wakaf yang di kenal semenjak dulu kala. alam Islam wakaf banyak tumbuh dan berkembang pada masa&lt;br /&gt;sahabat, terutama sekali semenjak pembebasan semenanjung Arab, seperti wakaf tanah perkebunan yang tersebar di&lt;br /&gt;Madinah, Makkah, Khaibar, Syam, Irak, Mesir dan Negara-negara Arab lainya. Mulai saat itu wakaf berkembang sangat&lt;br /&gt;pesat, sambutan dan pelaksanaan wakaf dari sahabat sangat besar, Jabir r.a. menyebutkan tidak seorang pun dari&lt;br /&gt;sahabat yang mempunyai kemampuan yang tidak ikut bewakaf (Az-Zuhali, 7599).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga halnya di Indonesia, perkembangan wakaf juga berjalan seiring dengan berkembangnya dakwah Islam di&lt;br /&gt;Indonesia. Hal ini terbukti dengan banyaknya masjid dan pekuburan di atas tanah wakaf, baik sebelum masa&lt;br /&gt;penjajahan, masa penjajahan, maupun sesudah kemerdekaan. Namun demikian perkembangan dan pengelolaan wakaf&lt;br /&gt;mengalami kemandekan dan kebekuan, dan akhirnya wakaf identik dengan masjid dan tanah kuburan saja. epartemen&lt;br /&gt;Agama mulai tahun 2005 melalui Direktorat Pengembangan Zakat dan Wakaf sudah membuat panduan-panduan&lt;br /&gt;pengelolaan wakaf tunai, namun sayang kurang tersosialisasi dengan baik ke tengah-tengah masyarakat. erwujudan&lt;br /&gt;dan pengembangan wakaf uang di Indonesia telah mulai dikembangkan oleh Dompet Dhuafa Republika. Lembaga ini&lt;br /&gt;mempunyai misi kemanusiaan membantu golongan dhuafa melalui dan Zakat, Infaq, Shadaqah dan Wakaf (ZISWAF),&lt;br /&gt;lebih lanjut oleh Dompet Dhuafa diperkenalkan pula apa yang di kenal dengan wakaf investasi dan sekaligus mendirikan&lt;br /&gt;Waspada Online&lt;br /&gt;http://www.waspada.co.id Menggunakan Joomla! Generated: 28 May, 2008, 20:34&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2805917360377116211-7471978049367638292?l=www.ekonomi-islam.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/feeds/7471978049367638292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2805917360377116211&amp;postID=7471978049367638292' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/7471978049367638292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/7471978049367638292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/2008/05/wakaf-uang-perlu-sosialisasi.html' title='Wakaf Uang Perlu Sosialisasi'/><author><name>jaharuddin.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00917718316384441930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_FHUL2vrDL3k/SIvRgKDFiRI/AAAAAAAAAak/IV5_ijUIFu0/S220/DSC03759.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2805917360377116211.post-7701128108139760851</id><published>2008-05-15T06:19:00.000-07:00</published><updated>2008-05-28T06:15:54.257-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pasar Modal Syariah'/><title type='text'>Saham Syariah</title><content type='html'>Jakarta Islamic Index adalah salah satu indeks saham yang ada di Indonesia yang menghitung index harga rata-rata saham untuk jenis saham-saham yang memenuhi kriteria syariah. Jakaarta Islamic Index dikembangkan sejak 3 juli 2000. Pembentukan index syariah ini untuk mendukung pembentukan pasar modal syariah yang kemudian diluncurkan di Jakarta pada tanggal 14 Maret 2003. Mekanisme pasar modal syariah meniru pola serupa di Malasya yang digabungkan dengan bursa konvensional. Saham yang masuk Jakarta Islamic Index berjumlah 30 (tiga puluh) saham yang memenuhi kriteria syariah. JII mengunakan hari dasar tanggal 1 Januari 1995 dengan nilai dasar 100.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metodologi Screening saham syariah&lt;br /&gt;Hal yang sering ditanyakan banyak orang dalam menangapi saham syariah adalah, bagaimana proses standarisasi agar suatu emiten mendapat standar. Pendekatan yang dilakukan adalah melalui 3 pendekatan, yaitu dilihat dari sisi apakah ativitas dan proses produksinya sesuai dengan syariah, kemudian apakah pendapatan dari emiten tersebut sesuai dengan syariah, dan apakah struktur modal emiten tersebut sehat secara ekonomi, berikut ini indikator screening emiten syariah:&lt;br /&gt;Tabel 1&lt;br /&gt;Variabel yang dinilai dan indikator sreening emiten syariah&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt;Yg dinilai&lt;br /&gt;Indikator&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Aktivitas atau metode produksi&lt;br /&gt;Sebuah saham bisa di klaim sebagai saham yang halal ketika produksi dari barang dan jasa yang dilakukan oleh perusahaan bebas dari elemen-elemen yang haram yang secara explicit disebut di dalam Al-Qur’an seperti riba, judi, minuman yang memabukkan, zina, babi dan semua turunannya&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Metode pendapatan&lt;br /&gt;Seluruh pendapatan yang didapat oleh perusahaan harus terhindar dan bebas dari bunga&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Metode struktur modal&lt;br /&gt;Secara keseluruhan jumlah modal yang bersumber dari hutang tidak melebihi 45% dari total modal&lt;br /&gt;Sumber: diolah dari Todi kurniawan, dalam volatilitas saham syariah (analisis atas JII), karim reviw, special edition, Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih rinci dapat dijelaskan bahwa terdapat 4 syarat yang harus dipenuhi agar saham dapat dikategorikan sebagai saham syariah:&lt;br /&gt;Emiten tidak menjalankan usaha perjudian dan permainan yang tergolong  judi atau perdagangan yang dilarang&lt;br /&gt;Bukan lembaga keuangan konvensional yang menerapkan sistim riba, termasuk perbankan dan assuransi konevnsional&lt;br /&gt;Usaha yang dilakukan bukan memproduksi, mendistribusikan, dan memperdagangkan makanan/minuman yang haram&lt;br /&gt;tidak menjalankan usaha memproduksi, mendistribusikan, dan menyediakan barang/jasa yang merusak moral dan bersifat mudharat&lt;br /&gt;Selain filter syariah, saham yang masuk dalam JII harus melalui beberapa proses penyaringan (filter) terhadap saham yang listing, yaitu:&lt;br /&gt;Memilih kumpulan saham dengan jenis usaha utama yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan sudah tercatat lebih dari 3 bulan, kecuali termasuk dalam 10 kapitalisasi besar&lt;br /&gt;memilih saham berdasarkan laporan keuangan tahunan tau tengah tahun berakhir yang memiliki rasio kewajiban terhadap aktiva maksimal sebesar 90%&lt;br /&gt;memilih 60 saham dari susunan saham diatas berdasarkan urutan rata-rata  kapitalisasi pasar (market capitalization) terbesar selam 1 (satu) tahun terakhir&lt;br /&gt;memilih 30 saham dengan urutan berdasarkan tingkat likuiditas rata-rata nilai perdagangan reguler selama 1 (satu) tahun terakhir.&lt;br /&gt;Pengkajian ulang akan dilakukan 6 (eman) bulan sekali dengan penentuan komponen indeks pada awal bulan Januari  dan Juli setiap tahunnya. Sedangkan perubahan pada jenis usaha utama emiten akan dimonitor secara terus menerus berdasarkan  data publik yang tersedia. Perusahaan yang mengubah lini bisnisnya menjadi tidak konsisten dengan prinsip syariah akan dikeluarkan dari indeks, dan secara otomatis akan digantikan emiten yang lain. &lt;br /&gt;Jakarta islamic Index (JII) bermamfaat bagi para investor yang  berkeinginan untuk mengivestasikan modalnya di saham-saham yang sesuai syariah, dari sekian banyak saham syariah yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) maka saham-saham yang masuk dalam Jakarta islamic Index (JII) merupakan saham-saham yang paling liquid, sehingga daftar ini bisa dijadikan salah satu indakator untuk menanamkan investasi di saham-saham yang termasuk di Jakarta islamic Index (JII).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbandingan perkembangan JII Juli – Desember 2006 s.d terbaru.&lt;br /&gt;Berikut tabel perkembangan saham-saham yang masuk dalam jajaran Jakarta Islamic Index (JII) periode Juli – Desember 2006, sampai dengan yang terbaru yaitu periode Januari – Juni 2008.&lt;br /&gt;Tabel 2&lt;br /&gt;Anggota JII periode  Juli – Desember 2006&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt;Nama Emiten&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt;Nama Emiten&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Adhi Karya (persero) Tbk&lt;br /&gt;16&lt;br /&gt;Indosat Tbk&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Aneka Tambang&lt;br /&gt;17&lt;br /&gt;Kawasan Industri jababeka Tbk&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Astra International Tbk&lt;br /&gt;18&lt;br /&gt;Kalbe Farma Tbk&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;Berlian Laju Tanker Tbk&lt;br /&gt;19&lt;br /&gt;Lippo Karawaci Tbk&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;Bakrie &amp;amp; Brothers Tbk&lt;br /&gt;20&lt;br /&gt;PP London Sumatra Tbk&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;Bakrie Telecom Tbk&lt;br /&gt;21&lt;br /&gt;Medco Energi International Tbk&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;Bumi Resources Tbk&lt;br /&gt;22&lt;br /&gt;Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;Ciputra Development Tbk&lt;br /&gt;23&lt;br /&gt;Palm Asia Corpora Tbk&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;Ciputra Surya Tbk&lt;br /&gt;24&lt;br /&gt;Tambang Batubara Bukit Asam Tbk&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;Energi Mega Persada Tbk&lt;br /&gt;25&lt;br /&gt;Holcim Indonesia Tbk&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;Gajah Tunggal Tbk&lt;br /&gt;26&lt;br /&gt;Pabrik kertas Tjiwi Kimia Tbk&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;International Nickel Ind. Tbk&lt;br /&gt;27&lt;br /&gt;Telekomunikasi Indonesia Tbk&lt;br /&gt;13&lt;br /&gt;Indofood Sukses Makmur Tbk&lt;br /&gt;28&lt;br /&gt;Bakrie Sumatra Palantations Tbk&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;Indah Kiat Pulp &amp;amp; Paper Tbk&lt;br /&gt;29&lt;br /&gt;United tarctors Tbk&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;Indocement Tunggal Prakarsa Tbk&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;Unilever Indonesia Tbk&lt;br /&gt;Sumber: Pengumuman BEJ no. Peng.149/BEJ-DAG/U/06-2006 tanggal 26 Juni 2006&lt;br /&gt;Dari tabel diatas dapat dilihat ada 4 emiten baru yang masuk dalam jajaran 30 saham terbaik di kategori syariah, yaitu Bakrie telecom Tbk, Ciputra Development Tbk, Ciputra Surya Tbk, Lippo Karawaci Tbk.. Ini menunjukkan bahwa ada 26 emiten yang mampu bertahan menjadi saham terbaik.&lt;br /&gt;Tabel 3&lt;br /&gt;Daftar saham yang masuk dalam perhitungan Jakarta Islamic Index&lt;br /&gt; periode  Januari 2007 s.d Juni 2007&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt;Nama Emiten&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt;Nama Emiten&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Astra Agro Lestari Tbk&lt;br /&gt;16&lt;br /&gt;Indocement Tunggal Prakasa Tbk&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Adhi Karya (persero) Tbk&lt;br /&gt;17&lt;br /&gt;Indosat Tbk&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Aneka Tambang (Persero) Tbk&lt;br /&gt;18&lt;br /&gt;Kalbe Farma Tbk&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;Astra International Tbk&lt;br /&gt;19&lt;br /&gt;Lippo Karawaci Tbk&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;Berlian Laju Tanker Tbk&lt;br /&gt;20&lt;br /&gt;PP London Sumatra Tbk&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;Bakrie &amp;amp; Brother Tbk&lt;br /&gt;21&lt;br /&gt;Medco Energ International Tbk&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;Bakrie Telecom Tbk&lt;br /&gt;22&lt;br /&gt;Perusahaan Gas Negara Tbk&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;Bumi Resources Tbk&lt;br /&gt;23&lt;br /&gt;Tambang Batubara Bukit Asam Tbk&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;Citra Marga Nusaphala Persada Tbk&lt;br /&gt;24&lt;br /&gt;Holcim Indonesia Tbk&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;Ciputra Development Tbk&lt;br /&gt;25&lt;br /&gt;Sumalindo Lestari Jaya Tbk&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;Ciputra Surya Tbk&lt;br /&gt;26&lt;br /&gt;Telekomunikasi Indonesia Tbk&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;Gajah Tunggal Tbk&lt;br /&gt;27&lt;br /&gt;Total Bangun Persada Tbk&lt;br /&gt;13&lt;br /&gt;International Nickel Ind. Tbk&lt;br /&gt;28&lt;br /&gt;Bakrie Sumatra Plantations Tbk&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;Indofood sukses makmur Tbk&lt;br /&gt;29&lt;br /&gt;United Tractors Tbk&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;Indah kiat pulp &amp;amp; Paper Tbk&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;Unilever Indonesia Tbk&lt;br /&gt;Sumber: Lampiran pengumuman BEJ N0. Peng-461/BEJ-DAG/U/12-2006&lt;br /&gt;tanggal 27 Desember 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tabel diatas jika dibandingkan dengan Jakarta Islamic Index pada periode sebelumnya maka terdapat 2 emiten baru yang masuk dalam jajaran 30 saham terbaik di kategori syariah, yaitu Citra Marga Nusaphala Persada Tbk dan Sumalindo Lestari Jaya Tbk.&lt;br /&gt;Tabel 4&lt;br /&gt;Anggota JII periode  Juli – Desember 2007&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt;Nama Emiten&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt;Nama Emiten&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Astra Agro Lestari Tbk&lt;br /&gt;16&lt;br /&gt;Indosat Tbk&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Aneka Tambang Tbk&lt;br /&gt;17&lt;br /&gt;Kalbe Farma Tbk&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Apexindo Pratama Tbk&lt;br /&gt;18&lt;br /&gt;Lippo Karawaci Tbk&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;Astra International Tbk&lt;br /&gt;19&lt;br /&gt;PP London sumatra Tbk&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;Berlian Laju Tangker Tbk&lt;br /&gt;20&lt;br /&gt;Medco energi Tbk&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;Bakrie &amp;amp; Brothers Tbk&lt;br /&gt;21&lt;br /&gt;Perusahaan Gas Negara Tbk&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;Bakrie telecom Tbk&lt;br /&gt;22&lt;br /&gt;Tambang Batubara Tbk&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;Bumi Reseurces Tbk&lt;br /&gt;23&lt;br /&gt;SMART Tbk&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;Citra Marga Nusaphala P Tbk&lt;br /&gt;24&lt;br /&gt;Holcim Indonesia Tbk&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;Ciputra Development Tbk&lt;br /&gt;25&lt;br /&gt;Semen Gresik Tbk&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;Mobile-8 telecom Tbk&lt;br /&gt;26&lt;br /&gt;Timah Tbk&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;International Nickel Indonesia Tbk&lt;br /&gt;27&lt;br /&gt;Telekomunikasi Tbk&lt;br /&gt;13&lt;br /&gt;Indofood sukses Tbk&lt;br /&gt;28&lt;br /&gt;Truba Alam Tbk&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;Indah Kiat Pulp Tbk&lt;br /&gt;29&lt;br /&gt;United Tractors Tbk&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;Indocement Tunggal Tbk&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;Unilever Indonesia Tbk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 5&lt;br /&gt;Anggota JII periode Januari 2008 – Juni 2008&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt;Nama Emiten&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt;Nama Emiten&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Astro argo lestari Tbk&lt;br /&gt;16&lt;br /&gt;Kawasan Industri Jababeka Tbk&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Aneka Tambang (persero) Tbk&lt;br /&gt;17&lt;br /&gt;Kalbe Farma Tbk&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Apexindo Pratama Duta Tbk&lt;br /&gt;18&lt;br /&gt;Matahari Putra Prima tbk&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;Global Mediacom Tbk&lt;br /&gt;19&lt;br /&gt;Plaza Indonesia Realty Tbk&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;Bakrie &amp;amp; Brothers Tbk&lt;br /&gt;20&lt;br /&gt;Tambang Batubara Bukit asam Tbk&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;Bakrie telecom Tbk&lt;br /&gt;21&lt;br /&gt;Ramayana Lestari sentosa Tbk&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;Bumi Resources Tbk&lt;br /&gt;22&lt;br /&gt;SMART Tbk&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;Citra marga Nusaphala Persada Tbk&lt;br /&gt;23&lt;br /&gt;Semen gresik (persero) Tbk&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;Ciputra Development Tbk&lt;br /&gt;24&lt;br /&gt;Summarecon Agung Tbk&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;Bakrieland Development Tbk&lt;br /&gt;25&lt;br /&gt;Timah Tbk&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;Mabile-8 Telecom Tbk&lt;br /&gt;26&lt;br /&gt;Telekomunikasi Indonesia Tbk&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;Humpuss Intermoda Transportasi Tbk&lt;br /&gt;27&lt;br /&gt;Truba alam manunggal engineering Tbk&lt;br /&gt;13&lt;br /&gt;International Nickel Indonesia Tbk&lt;br /&gt;28&lt;br /&gt;Tempo scan pacific Tbk&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;Indocement Tunggal Prakasa Tbk&lt;br /&gt;29&lt;br /&gt;United Tractors Tbk&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;Jaya Real Property Tbk&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;Unilever Indonesia Tbk&lt;br /&gt;Sumber: Pengumuman BEI No. Peng-032/BEI.PSH/U/01-2008.&lt;br /&gt;Jika dibandingkan antara periode Januari – Juni 2008, dengan daftar JII periode sebelumnya, ada 10 (sepuluh) emiten yang masuk kembali menjadi daftar JII pada periode Januari – Juni 2008, yaitu Global Mediacom, Bakrieland Development, Humpus Intermoda, Jaya Real Property, kawasan Industri jababeka, Matahari Putra Prima, Plaza Indonesia Realty, Ramayana Lestari, Summarecon Agung, Tempo scan pacific.&lt;br /&gt;Pada akhir 2007 yang lalu lembaga Indonesia Institute for Corporate Deretorship (IICD)&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;. yaitu lembaga independent yang didirikan oleh 10 (sepuluh) perguruan tinggi, merampungkan hasil risetnya berupa rating corporate governance perusahaan public yang listing di Bursa.&lt;br /&gt;Tim IICD berhasil membuat 20 (duapuluh)  emiten dengan Good Corporate Governance (GCG) terbaik, dari 20 (duapuluh)  emiten yang masuk terbaik tersebut , 10 (sepuluh) diantaranya adalah emiten-emiten yang biasanya masuk menjadi daftar Jakarta Islamic Index (JII), ke 10 (sepuluh) emiten tersebut, adalah:&lt;br /&gt;Aneka Tambang (persero) Tbk&lt;br /&gt;Medco Energi International Tbk&lt;br /&gt;Tambang Batubara Bukit Asam Tbk&lt;br /&gt;Telekomunikasi Indonesia Tbk&lt;br /&gt;Indosat Tbk&lt;br /&gt;Adhi Karya Tbk&lt;br /&gt;Apexindo Pratama Duta Tbk&lt;br /&gt;Kimia Farma Tbk&lt;br /&gt;Bakrie Sumatra Palantations Tbk&lt;br /&gt;International Nickel Ind Tbk&lt;br /&gt;Hal ini penting mengingat  Good Corporate Governance (GCG) mempunyai prinsip-prinsip yang sangat selaras dengan syariah, yaitu Transparansi, akuntabilitas, pertangungjawaban, kemandirian dan kewajaran. Yang lebih mengembirakan lagi dari 20 (dua puluh) emiten yang menjadi terbaik tersebut, peringkat 1 (satu) dan peringkat 2 (dua) adalah emiten JII, yaitu Aneka Tambang dan Medco Energi.&lt;br /&gt;Dari sisi peringkat return saham 20 emiten dengan GCG terbaik, emiten-emiten JII juga mendominasi, yaitu Tambang Batubara, INCO, Aneka Tambang, Bakrie Sumatra P, Astra International, Adhi Karya, Medco energi, Indosat, Apexindo Pratama, Telkom. Dengan demikian secara sederhana dapat dilihat bahwa syariah Islam sangat selaras dengan perkembangan zaman, bahkan saya meyakini bahwa perusahaan-perusahaan yang benar-benar menerapkan syariah islam secara utuh di perusahaan tersebut, maka kinerja di pasar modalnya insya Allah juga akan menjadi bagian dari perusahaan-perusahaan terbaik di pasar modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Emiten-emiten berdinding Kaca, Majalah Investor, April 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2805917360377116211-7701128108139760851?l=www.ekonomi-islam.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/feeds/7701128108139760851/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2805917360377116211&amp;postID=7701128108139760851' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/7701128108139760851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/7701128108139760851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/2008/05/saham-syariah.html' title='Saham Syariah'/><author><name>jaharuddin.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00917718316384441930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_FHUL2vrDL3k/SIvRgKDFiRI/AAAAAAAAAak/IV5_ijUIFu0/S220/DSC03759.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2805917360377116211.post-346728711665927222</id><published>2008-05-15T06:17:00.000-07:00</published><updated>2008-05-28T06:16:38.094-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pasar Modal Syariah'/><title type='text'>Obligasi Syariah (Investment sukuk)</title><content type='html'>Obligasi Syariah (Investment sukuk)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obligasi adalah suatu surat berharga jangka panjang yang bersifat hutang yang dikeluarkan oleh emiten kepada pemegang obligasi dengan kewajiban membayar bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok pada saat jatuh tempo kepada pemegang obligasi.&lt;br /&gt;Dalam pasar modal syariah semacam dengan obligasi disebut Investement sukuk. Sukuk adalah sertifikat dengan nilai yang setara yang merepresentasikan bagian kepemilikan yang tidak bisa terbagi-bagi (undivide shares in ownership) dari aktiva tetap (tangible assets), mamfaat (usufructs) dan jasa dan kepemilikan atas proyek tertentu atau investasi khusus. Namun sukuk tersebut baru efektif apabila telah selesai proses penerbitan dan dana dari penerbitan sukuk tersebut telah digunakan untuk tujuan dari penerbitan sukuk tersebut.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; obligasi Syariah adalah surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan oleh emiten kepada pemegang obligasi syariah yang mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil/margin/fee serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo. Jenis - jenis akan yang digunakan untuk obligasi syariah ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudharabah/bagi hasil&lt;br /&gt;Obligasi syariah (sukuk) Mudharabah adalah sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau akad Mudharabah di mana satu pihak menyediakan modal (rab al-mal) dan pihak lain menyediakan tenaga dan keahlian (mudharib), keuntungan dari kerjasama tersebut akan dibagi berdasarkan perbandingan yang telah disetujui sebelumnya. Kerugian yang timbul akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak yang menjadi penyedia modal.&lt;br /&gt;Musyarakah/bagi hasil&lt;br /&gt;Obligasi syariah (sukuk) Musyarakah adalah sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau akad musyarakah dimana dua pihak atau lebih bekerjasama mengabungkan modal untuk membangun proyek baru, mengembangkan proyek yang telah ada, atau membiayai kegiatan usaha. Keuntungan maupun kerugian  yang timbul ditanggung bersama sesuai dengan jumlah partisipasi modal masing-masing pihak.&lt;br /&gt;Istishna/margin&lt;br /&gt;Obligasi syariah (sukuk) Istisna’ adalah sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian akad istisna’ dimana par apihak menyepakati jual beli dalam rangka pembiayaan suatu proyek/barang. Adapun harga, waktu penyerahan, dan specifikasi barang/proyek ditentukan terlebih dahulu berdasarkan kesepakatan&lt;br /&gt;Ijarah/fee (imbal hasil)&lt;br /&gt;Obligasi syariah (sukuk) ijarah adalah sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau akad ijarah dimana satu pihak bertindak sendiri atau melalui wakilnya menjual atau menyewakan hak mamfaat atas suatu aset kepada pihak lain berdasarkan harga dan periode yang disepakati, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan aset itu sendiri. Sukuk Ijarah dibedakan menjadi ijarah al Muntahiyya Bitamlik (sale and lease back) dan ijarah headlease and sublease.&lt;br /&gt;Murabahah/margin&lt;br /&gt;Obligasi syariah (sukuk) murabahah adalah dengan akad jual beli barang untuk jangka panjang dimana pembeli dapat membayar harga barang yang disepakati pada jangka waktu tertentu dan penjual dapat menambah margin pada harga pokok barang yang dijual tersebut.&lt;br /&gt;Salam/margin&lt;br /&gt;Obligasi syariah (sukuk) salam adalah kontrak jual beli barang yang dibuthkan perusahaan dengan cara pemesanan dan pembayaran harga lebih dahulu oleh investor dengan syarat-syarat tertentu.&lt;br /&gt;Tabel 6&lt;br /&gt;Perbandingan sukuk dan Obligasi&lt;br /&gt;Deskripsi&lt;br /&gt;Sukuk&lt;br /&gt;Obligasi&lt;br /&gt;Penerbit&lt;br /&gt;Pemerintah, korporasi&lt;br /&gt;Pemerintah, korporasi&lt;br /&gt;Sifat Instrumen&lt;br /&gt;Sertifikat kepemilikan/penyertaan atas suatu asset&lt;br /&gt;Instrumen pengakuan utang&lt;br /&gt;Penghasilan&lt;br /&gt;Imbalan, bagi hasil, margin&lt;br /&gt;Bunga/kupon, capital gain&lt;br /&gt;Jangka Waktu&lt;br /&gt;Pendek - menengah&lt;br /&gt;Menengah - Panjang&lt;br /&gt;Underlying asset&lt;br /&gt;Perlu&lt;br /&gt;Tidak Perlu&lt;br /&gt;Pihak yang terkait&lt;br /&gt;Obligor, SPV, Investor, Trustee&lt;br /&gt;Obligor, Issuer, investor&lt;br /&gt;Price&lt;br /&gt;Market Price&lt;br /&gt;Market price&lt;br /&gt;Investor&lt;br /&gt;Islami, Konvensional&lt;br /&gt;Konvensional&lt;br /&gt;Pembayaran Pokok&lt;br /&gt;Bullet atau amortisasi&lt;br /&gt;Bullet atau amortisasi&lt;br /&gt;Pengunaan hasil penerbitan&lt;br /&gt;Harus sesuai dengan syariah&lt;br /&gt;Bebas&lt;br /&gt;Sumber : Mengenal sukuk instrumen investasi &amp;amp; pembiayaan berbasis syariah, Direktorat Kebijakan Pembiayaan syariah Direktorat Jendral Pengelolaan utang Departemen keuangan RI&lt;br /&gt;Tabel 7&lt;br /&gt;Penerbit obligasi syariah&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt;Penerbit Obligasi syariah&lt;br /&gt;Akad&lt;br /&gt;Nilai&lt;br /&gt;(Rp. Miliar)&lt;br /&gt;Rating&lt;br /&gt;Return&lt;br /&gt;(%)&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Indosat (2002)&lt;br /&gt;Mudharabah&lt;br /&gt;175&lt;br /&gt;idAA+&lt;br /&gt;16,38&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Matahari putra Prima (2002)&lt;br /&gt;Ijarah&lt;br /&gt;150&lt;br /&gt;idA+&lt;br /&gt;13,80&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Sona Topas Tourismm Industri (2004)&lt;br /&gt;Ijarah&lt;br /&gt;52&lt;br /&gt;A+&lt;br /&gt;13,50&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;Berlian Laju Tangker (2003)&lt;br /&gt;Mudharabah&lt;br /&gt;60&lt;br /&gt;A&lt;br /&gt;14,75&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;Bank Bukopin (2003)&lt;br /&gt;Mudharabah&lt;br /&gt;45&lt;br /&gt;idBBB+&lt;br /&gt;15,00&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;PT. Pembangunan Perumahan (MTN Syariah) (2003)&lt;br /&gt;Mudharabah&lt;br /&gt;50&lt;br /&gt;BBB+&lt;br /&gt;13,25&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;PTPN VII (2004)&lt;br /&gt;Mudharabah&lt;br /&gt;75&lt;br /&gt;idBBB+&lt;br /&gt;13,50&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;Ciliandra perkasa (2004)&lt;br /&gt;Mudharabah&lt;br /&gt;60&lt;br /&gt;idBBB+&lt;br /&gt;14,00&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;Bank Syariah Mandiri (2003)&lt;br /&gt;Mudharabah&lt;br /&gt;200&lt;br /&gt;idBBB&lt;br /&gt;13,00&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;Citra Sari Makmur (2004)&lt;br /&gt;Ijarah&lt;br /&gt;100&lt;br /&gt;idBBB&lt;br /&gt;13,50&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;Bank Muamalat Indonesia (2003)&lt;br /&gt;Mudharabah&lt;br /&gt;200&lt;br /&gt;idBBB+&lt;br /&gt;17,00&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;Humpus Intermoda transportasi (2004)&lt;br /&gt;Ijarah&lt;br /&gt;122&lt;br /&gt;NA&lt;br /&gt;NA&lt;br /&gt;13&lt;br /&gt;CSM Corporatama Indorent (2004)&lt;br /&gt;Ijarah&lt;br /&gt;100&lt;br /&gt;idA&lt;br /&gt;13-14&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;Berlina Tbk (2004)&lt;br /&gt;Ijarah&lt;br /&gt;85&lt;br /&gt;idA&lt;br /&gt;13,25 – 14&lt;br /&gt;Sumber : Obligasi (suukok) syariah: alternatif pendanaan korporasi, Aziz Budi Setiawan&lt;br /&gt;Tabel 8&lt;br /&gt;Perbandingan jumlah obligasi syariah vs total obligasi dan perbandingan nilai emisi obligasi syariah vs total nilai emisi obligasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thn&lt;br /&gt;Perbandingan jumlah obligasi syariah vs total obligasi&lt;br /&gt;Perbandingan nilai emisi obligasi syariah vs total nilai emisi obligasi (Rp. Milyar)&lt;br /&gt;Syariah&lt;br /&gt;Obligasi&lt;br /&gt;%&lt;br /&gt;Syariah&lt;br /&gt;Obligasi&lt;br /&gt;%&lt;br /&gt;2000&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;91&lt;br /&gt;0%&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;28.787,40&lt;br /&gt;0%&lt;br /&gt;2001&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;94&lt;br /&gt;0%&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;31.662,40&lt;br /&gt;0%&lt;br /&gt;2002&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;100&lt;br /&gt;0%&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;37.812,40&lt;br /&gt;0%&lt;br /&gt;2003&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;135&lt;br /&gt;4,44%&lt;br /&gt;740.00&lt;br /&gt;63.635,50&lt;br /&gt;1,16%&lt;br /&gt;2004&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;145&lt;br /&gt;6,89%&lt;br /&gt;1.117,00&lt;br /&gt;75.055,30&lt;br /&gt;1,48%&lt;br /&gt;Sumber : data tahun 2000 – 2004 diambil dari hasil studi tentang investasi syariah di pasar modal indonesia, Depkeu RI, BAPEPAM, tahun 2004.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            Dari data diatas dapat dilihat bahwa prospek obligasi islami sangan baik, seiring berkembangnya lembaga-lembaga keuangan syariah. Hal ini didukung oleh kondisi bahwa banyak lembaga keuangan syariah seperti bank, asuransi, dan reksadana yang kelebihan dana dan kesulitan menginvestasikan dananya. Obligasi syariah menjadi alternatif investasi jangka panjang untuk menyalurkan kelebihan likuiditas yang aman dan return-nya cukup baik.  Dari data di atas Indosat misalnya memberi return setara 16%, bahkan pada periode awal return-nya mencapai 17,82%.&lt;br /&gt;            Obligasi mudharabah memang menarik untuk investor, dan lebih adil untuk perusahaan, karena besarnya return tersebut tergantung pada besar kecilnya pendapatan perusahaan. Sedangkan bagi investor yang menginginkan pendapatan yang lebih tetap mereka bisa memilih obligasi ijarah yang memberi imbal hasil berupa sewa (fee ijarah) dengan tingkat return yang tetap dan telah ditentukan sebelumnya. Jadi bukan lagi tergantung pada penghasilan atau tingkat bagi hasil yang tidak tentu sebagaimana obligasi Mudharabah.&lt;br /&gt;            Positifnya sentimen pasar terhadap obligasi syariah ini juga bisa dilihat dari indikasi semakin meningkatnya percaya diri pemerintah untuk  membiayai diri sendiri, hal itu bisa terlihat dari meningkatnya pembiayaan negara yang dibiayai dari Surat utang Negara. Tabel berikut menunjukkan data tersebut.&lt;br /&gt;Tabel 9&lt;br /&gt;Kecendrungan meningkatnya pembiayaan Negara melalui instrumen Surat Utang Negara (SUN)&lt;br /&gt;Tahun&lt;br /&gt;Pembiayaan Negara melalui&lt;br /&gt;SUN (Rp. Triliun)&lt;br /&gt;Increase&lt;br /&gt;2005&lt;br /&gt;22,5&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;2006&lt;br /&gt;35,9&lt;br /&gt;36%&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;57,3&lt;br /&gt;57%&lt;br /&gt;2008&lt;br /&gt;91,6*&lt;br /&gt;91%&lt;br /&gt;               Sumber: data dioleh dari Majalah Investor Februari – Maret 2008&lt;br /&gt;               *Perkiraan&lt;br /&gt;            Dari tebl diatas dapat dilhat bahwa semangat mandiri tidak tergantung pada pembiayaan utang dari pihak asing mendorong pemerintah untuk mencari sumber pembiayaan melalui SUN, dan ternyata disambut positif oleh pasar modal di dalam negeri. Hal yang sama bisa diprediksi jika obligasi syariah negara, yang dikenal juga dengan sukuk terealisasi penerbitannya, maka dari indikator diatas dapat dilihat bahwa pasar akan meresponnya dengan positif sekali, bahkan mungkin kekurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan Obligasi Syariah (sukuk)&lt;br /&gt;            Ada beberapa pekerjaan rumah yang selalu harus diperbarui kedepan, seperti: terlihat dari tabel Perbandingan jumlah obligasi syariah vs total obligasi dan perbandingan nilai emisi obligasi syariah vs total nilai emisi obligasi, sampai tahun 2004 jumlah obligasi syariah jika dibandingkan dengan total jumlah obligasi, maka obligasi syariah masih kelihatan kecil, yaitu sebesar 6,89%, dengan nilai emisi 1,48%. Jika dibandingkan dengan negara jiran Malasya, data september 2002 saja, memperlihatkan bahwa total nilai obligasi syariah di pasar modal malasya mencapai USD 15,52 miliar (43% dari total nilai obligasi yang tercatat di pasar modal Malasya). Dengan demikian terbuka luas pengembangan obligasi syariah di Indonesia, yang seharusnya nilai kapitalisasinya jauh lebih besar dari Malasya.&lt;br /&gt;            Kemudian meski ditahap awal kelahiran obligasi syariah ini telah mengundang kontroversi; baik karena pilihan penamaan ”obligasi/bond” yang tidak sesuai dengan substansi dan esensi sesungguhnya yaitu investasi dan bukan utang. Maka mengingat obligasi syariah adalah instrumen baru di pasar modal Indonesia, maka tantangan selanjutnya adalah menyempurnakan konsep dan praktiknya yang benar-benar sesuai syariah, dengan demikian fungsi pengawasan dari pihak-pihak yang terkait, benar-benar diharapkan bisa berjalan dengan baik, dan para ulama harus berpadu untuk membuat ijtihad-ijtihad baru, jika dalam pelaksanaannya ada hal-hal baru yang belum diatur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Definisi AAOIFI (Acounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution), sharian standard No. 17, dalam Kanny Hidaya Y, Pengawasan Syariah pada Reksadana Syariah, Hand out pada Ijtima’ Sanawi DPS Tahun 2007, 13 – 16 Agustus 2007&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Fatwa DSN-MUI No. 32/DSN-MUI/IX/2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2805917360377116211-346728711665927222?l=www.ekonomi-islam.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/feeds/346728711665927222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2805917360377116211&amp;postID=346728711665927222' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/346728711665927222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/346728711665927222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/2008/05/obligasi-syariah-investment-sukuk.html' title='Obligasi Syariah (Investment sukuk)'/><author><name>jaharuddin.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00917718316384441930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_FHUL2vrDL3k/SIvRgKDFiRI/AAAAAAAAAak/IV5_ijUIFu0/S220/DSC03759.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2805917360377116211.post-6117116273151544930</id><published>2008-05-15T00:23:00.001-07:00</published><updated>2008-06-01T18:50:16.433-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pasar Modal Syariah'/><title type='text'>Ekonomi Moneter Islami</title><content type='html'>Pengantar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonomi Moneter merupakan salah satu instrumen penting dalam perekonomian modern, dalam perekonomian modern terdapat dua kebijakan perekonomian yang dijadikan instrumen oleh pemerintah dalam menstabilkan perekonomian suatu negara, yang pertama adalah kebijakan Fiskal, yaitu kebijakan yang diambil pemerintah untuk membelanjakan pendapatannya dalam merealisasi tujuan-tujuan ekonomi &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;. Yang kedua adalah kebijakan moneter. Kebijakan moneter adalah langkah pemerintah untuk mengatur penawaran uang dan tingkat bunga&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Pada tulisan ini Kelompok 3, akan mencoba menyajikan konsep-konsep dasar ekonomi moneter islam berdasarkan alur sejarah, yaitu kami akan mencoba mengidentifikasi perkembangan sejarah ekonomi moneter islam semenjak zaman Rasulullah, para Khulafa Ar-Rasyidin, Zaman Bani Umayah, Zaman Bani Abasiah 1 dan Bani Abasiah 2.&lt;br /&gt;Kami akui dalam penulisan makalah ini pemikiran kami, masih “terkungkungi” cara berfikir ekonomi konvensional, yaitu cara berfikir ribawi, sehingga mungkin ada kalanya tidak pas dengan konsep ekonomi islam sesungguhnya,namun bagaimanapun juga ekonomi konvensional kita jadikan bahan comparasi untuk melihat sempurnanya agama islam sebagai sebuah ajaran sekaligus sebagai system (Q.S : ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Ekonomi Moneter Konvensional&lt;br /&gt;Ekonomi Moneter merupakan suatu cabang ilmu ekonomi yang membahas tentang peranan uang dalam mempengaruhi tingkat harga-harga dan tingkat kegiatan ekonomi dalam suatu negara. Dalam pandangan ekonomi konvensioanal maka tujuan memegang uang terdiri dari tiga keinginan, yaitu&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; :&lt;br /&gt;1. Tujuan transaksi&lt;br /&gt;Dalam rangka membayar pembelian-pembelian yang akan mereka lakukan&lt;br /&gt;2. Tujuan Berjaga-jaga&lt;br /&gt;Sebagai alat untuk menghadapi kesusahan yang mungkin timbul di masa yang akan datang&lt;br /&gt;3. Tujuan Spekulasi&lt;br /&gt;Dalam masyarakat yang menganunt sistem ekonomi konvensional ini, maka fungsi uang yang tak kalah pentingnya adalah untuk spekulasi, dimana pelaku ekonomi dengan cermat mengamati tingkat bunga yang berlaku saat itu, jika menguntungkan bila dibandingkan investasi, maka masyarakat cendrung mendepositokan saja uang, dengan harapan mendapat imbalan bunga.&lt;br /&gt;Selanjutnya terkait dengan konsep ekonomi Moneter Konvensional maka tidak bisa dipisahkan dengan Kebijakan Moneter. Kebijakan Moneter adalah Kebijakan pemerintah dalam mengatur penawaran uang dan tingkat bunga yang dilaksanakan oleh Bank sentral. Bentuk Kebijakan Moneter ini terdiri dari Kebijakan Moneter Kuantitatif dan Kebijakan Moneter Kualitatif &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;. Kebijakan Moneter Kuantitatif adalah merupakan suatu kebijakan umum yang bertujuan untuk mempengaruhi jumlah penawaran uang dan tingkat bunga dalam perekonomian. terdiri dari:&lt;br /&gt;1. Operasi pasar terbuka&lt;br /&gt;Pada masa inflasi maka Bang Sentral akan mengadakan operasi pasar terbuka dengan melempar surat-surat berharga ke Bank umum, sehingga kelebihan uang di Bank Umum tidak menyebabkan inflasi, dan sebaliknya pada masa deflasi&lt;br /&gt;2. Mengubah Tingkat Bunga dan Tingkat Disconto&lt;br /&gt;Tingkat bunga dan tingkat disconto merupakan instrumen pemerintah dalam stabilisasi moneter, ketika inflasi maka pemerintah melalui bank sentral dapat melakukan kebijakan menaikkan suku bungga sehingga jumlah uang yang beredar di masyarakat akan berkurang, dan kestabilan moneter akan tercapai, dan begitu pula sebaliknya pada masa deflasi.&lt;br /&gt;3. Mengubah Tingkat Cadangan Minimum&lt;br /&gt;Langkah selanjutnya yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah dengan mengubah cadangan minimun bank-bank umum ketika inflasi maka pemerintah mengambil kebijakan untuk menaikkan cadangan minimum yang harus dimiliki oleh bank umum, dengan demikian jumlah uang yang beredar di masyarakat akan berkurang, dan sebaliknya pada masa deflasi.&lt;br /&gt;Sedangkan Kebijakan Moneter kualitatif dapat berupa:&lt;br /&gt;1. Pengawasan pinjaman secara selektif&lt;br /&gt;Melalui kebijakan ini maka pmerintah melalui bank sentral mengendalikan dan mengawasi peminjaman dan investasi-investasi yang dilakukan oleh bank-bank umum.&lt;br /&gt;2. Pembujukan Moral&lt;br /&gt;Bank sentral melakukan pertemuan dengan bank-bank umum, malalui forum ini maka bank sentral menjelaskan kebijakan-kebijakan yang sedang dijalankan pemerintah dan bantuan-bantuan apa yang diinginkan oleh bank sentral dari bank-bank umum untuk mensukseskan kebijakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Ekonomi Moneter Islami&lt;br /&gt;Dari terminologi ekonomi konvensional, pembahasan ekonomi Moneter islami ini kelompok 3, mengambil asumsi bahwa berbicara tentang ekonomi moneter terkait tentang dua hal : (1). Tentang uang dan aspek yang terpengaruh olehnya dan (2). adalah tentang tingkat bunga dan semua aspeknya.&lt;br /&gt;1. Zaman Rasulullah&lt;br /&gt;· Sistem moneter mengunakan bimetallic standar, dengan emas dan perak (dalam bentuk uang dirham dan dinar) sebagai alat pembayaran yang syah. Nilai tukar emas dan perak pada masa ini relatif stabil dengan nilai kurs dinar – dirham 1 : 10 &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;· Permintaan akan uang dilandasi hanya oleh dua motif, yaitu untuk transaksi dan berjaga-jaga. Modelnya sebagai berikut :&lt;br /&gt;Md = Mdtr + Md pr ; apabila Md pr maka Mdtr (hal 151, adiwarman)&lt;br /&gt;· Mata uang dimpor, dinar dari romawi, dirham dari parsia dan disesuaikan dengan volume ekspor dan impor&lt;br /&gt;· Nilai emas dan perak pada kepingan dinar dan atau dirham sama dengan nilai nominal (face value) uangnya.&lt;br /&gt;· Penawaran uang terhadap pendapatan sangat elastis&lt;br /&gt;· Tinggi rendahnya permintaan uang bergantung kepada frekuensi transaksi perdagangan dan jasa&lt;br /&gt;· Permintaan uang untuk transaksi dan berjaga-jaga&lt;br /&gt;· Kanz (larangan menimbun uang)&lt;br /&gt;· Deamnd money, elastis, karena tidak adanya hanbatan terhadap impor ketika demand meningkat&lt;br /&gt;2. Zaman Al-Khulafa Ar-Rasyidin&lt;br /&gt;Umar Bin Khattab&lt;br /&gt;· Pernah memperkenalkan jenis uang dari kulit binatang (hal 142, adiwarman)&lt;br /&gt;· Adm keuangan kaum muslimin di delegasikan kepada orang-orang Persia&lt;br /&gt;· Mengunakan satuan dirham&lt;br /&gt;· Diterbitkan surat pembayaran cek/surat-surat utang.&lt;br /&gt;Abu Bakar As Sidiq&lt;br /&gt;Usman Bin Affan&lt;br /&gt;Ali Bin Abi Tholib&lt;br /&gt;· Secara resmi mencetak uang sendiri dengan mengunakan pemerintahan islam (hal 128)&lt;br /&gt;3. Zaman Bani Umayah&lt;br /&gt;4. Zaman Bani Abbasiah 1&lt;br /&gt;5. Zaman Bani Abbasiah 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Artikel, Kebijakan Fiskal dalam Ekonomi Syari’ah, http//www.imz.or.id&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Sadono Sukirno, Pengantar Teori Makro Ekonomi, Edisi kedua, Rajawali Pers Desember 1994&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Sadono Sukirno, Pengantar Teori Makro Ekonomi, Edisi kedua, Rajawali Pers Desember 1994, hal ; 226 -&lt;br /&gt;227&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Sadono Sukirno, hal 233&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Adi Warman Karim, Ekonomi Islam Suatu kajian Ekonomi Makro, IIIT Indonesia, Mei 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2805917360377116211-6117116273151544930?l=www.ekonomi-islam.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/feeds/6117116273151544930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2805917360377116211&amp;postID=6117116273151544930' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/6117116273151544930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/6117116273151544930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/2008/05/ekonomi-moneter-islami.html' title='Ekonomi Moneter Islami'/><author><name>jaharuddin.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00917718316384441930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_FHUL2vrDL3k/SIvRgKDFiRI/AAAAAAAAAak/IV5_ijUIFu0/S220/DSC03759.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2805917360377116211.post-5675006456920117665</id><published>2008-05-15T00:17:00.000-07:00</published><updated>2008-05-28T06:18:33.720-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Pembangunan Syariah'/><title type='text'>Sistematika Pembagunan Rasulullah (bagian 6/selesai)</title><content type='html'>1.      Kebijakan Moneter&lt;br /&gt;Jazirah arab teletak di jalan lalu lintas perdagangan antara imperiumPersia dan Imperium Romawi (jalur dagang utara), Imperium Romawi dan India (Jalur dagang selatan), dan syam dengan Yaman (jalur utara-selatan). Kondisi tersebut sangat menguntungkan  Jazirah Arab. Perdagangan Merupakan Basis kegiatan ekonomi masyarakat arab.&lt;br /&gt;1.      Uang Yang digunakan.&lt;br /&gt;Makkah sejak awal kenabian hingga jaman Rasulullah memerintah, mata uang yang digunakan adalah dirham dan Dinar. Hal ini diriwayatkan dalam Hadist Ibnu Umar Meriwayatkan bahwa nabi bersabda: “Jika manusia telah menjadi kikir lantaran uang Dinar dan Dirham, mereka melakukan jual beli dengan cara ‘ayyinah dan mereka telah mengulit buntut sapi, mereke meninggalkan jihad dijalan Allah, maka Allah menurunkan bala kepada mereka. Dia tidak mencabut bala tersebut sebelum mereka kembali kepada agama mereka” (Riwayat Ahmad, Abu daud, Ath Tharmidzi dan Ibnu Qaththan).&lt;br /&gt;Dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Malik dan Ad Daruquthnie dari al Aliyah binti Syarahbil, mengatakan :”Aku dan Ibu Zaid bin Arqam berkata, “Sesungguhnya aku telah menjual budak dari Zaid bin Arqam dengan harga 800 dirham dengan cara nashi’ah (penanguhan pembayaran), kemudian aku beli lagi dengan harga 600 dirham dengan cara tunai” Aisyah kemudian berkata : “Alangkah buruknya caramu menjual, dan alangkah buruknya caramu membeli. Sampaikanlah kepada Zaid bin Arqam, bahwa cara demikian telah membatalkan (ma’na) jihadnya bersama rasulullah SAW kecuali jika ia bertobat”&lt;br /&gt;Dari dua riwayat ini terlihat dengan jelas bahwa dimasa Rasulullah SAW alat pembayaran yang digunakan dalam transaksi adalah dinar dan dirham, bahkan dalam riwayat lain malah diketemukan sebelum Rasulullah SAWpun sebenarnya dinar dan dirham juga telah ada di jazirah arab.&lt;br /&gt;2.      Sistem dan Kebijakan Moneter&lt;br /&gt;Sistem moneter mengunakan bimetallic standar, dengan emas dan perak (dalam bentuk uang dirham dan dinar) sebagai alat pembayaran yang syah. Nilai tukar emas dan perak  pada masa ini relatif stabil dengan nilai kurs dinar – dirham 1 : 10 &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;      Permintaan akan uang dilandasi hanya oleh dua motif, yaitu untuk transaksi dan berjaga-jaga. Modelnya sebagai berikut :      Md = Mdtr + Md pr ; apabila Md pr      maka Mdtr   ,Mata uang dimpor, dinar dari romawi, dirham dari parsia dan disesuaikan dengan volume ekspor dan impor. Nilai emas dan perak pada kepingan dinar dan atau dirham sama dengan nilai nominal (face value) uangnya.&lt;br /&gt;Penawaran uang terhadap pendapatan sangat elastis, Tinggi rendahnya permintaan uang bergantung kepada frekuensi transaksi perdagangan dan jasa, Larangan Kanz (larangan menimbun uang), Demand money, elastis, karena tidak adanya hambatan terhadap impor ketika demand meningkat&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;1.      Jika kita lihat sistematika pembangunan yang dilakukan Oleh Rasulullah SAW, sebagai prototype sistem pembangunan ekonomi islam maka kita melihat bahwa yang dilakukan pertama adalah membangun aqidah/Keimanan ummat yang secara simbolis terlihat dalam langkah pertama Rasulullah SAW, membangun Mesjid dalam masa pemerintahannya di Kota Madinah, memperkuat ikatan ukhuwah ditengah tengah masyarakat.&lt;br /&gt;2.      Langkah kedua yang dilakukan adalah membangun pra dan sarana politik, seperti Konstitusi, system Pertahanan, Majelis Syuro dan Sekretariat Negara&lt;br /&gt;3.      Pembangunan Ekonomi, aktivitas produksi, ditribusi, konsumsi dan diperkuat dengan konsep-konsep dasar tentang kebijakan fiskal yang mengambarkan pola pendapatan dan pengeluaran di zaman Rasulullah, dan pada masa ini pula telah digagas konsep-konsep dasar kebijakan moneter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Al-Kaaf, Zaky, Abdullah, Ekonomi Dalam Perspektif Islam, Pustaka Setia Bandung, Maret 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyyurahman, Sirah Nabawiyah, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta,Maret 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel Suplemen Republika,  29 Juni 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Hidayat, Surahman, Etika Produksi Dalam islam, Artikel Republika, 28 Oktober 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http//www.imz.or.id, Kebijakan Fiskal dalam ekonomi Syari’ah, artikel imz online, 19 Oktober 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karim, Adiwarman, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, IIIT, Jakarta, 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.      Karim, Adiwarman ,Ekonomi Mikro islami, IIIT, Jakarta, 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.      Karim,Adiwarman, Ekonomi Islam Suatu kajian Ekonomi Makro, IIIT Jakarta, Mei 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mannan, M. Abdul, Teori dan Praktek, Ekonomi Islam, Dana Bhakti Prima Yasa, Yogyakarta, 1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.  Najib, Mukhamad, Perilaku Konsumsi dalam Islam, Republika, 8 November 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perwataatmadja, Karnaen A, Sejarah dan Pemikiran Ekonomi Islami, Diktat Kuliah, PSKTTI UI, 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.  Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II, Rajawali Press, Jakarta 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Adi Warman Karim, Ekonomi Islam Suatu Kajian Ekonomi Makro,  Mei 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2805917360377116211-5675006456920117665?l=www.ekonomi-islam.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/feeds/5675006456920117665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2805917360377116211&amp;postID=5675006456920117665' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/5675006456920117665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/5675006456920117665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/2008/05/sistematika-pembagunan-rasulullah_6708.html' title='Sistematika Pembagunan Rasulullah (bagian 6/selesai)'/><author><name>jaharuddin.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00917718316384441930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_FHUL2vrDL3k/SIvRgKDFiRI/AAAAAAAAAak/IV5_ijUIFu0/S220/DSC03759.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2805917360377116211.post-2472302359732251073</id><published>2008-05-15T00:14:00.000-07:00</published><updated>2008-05-28T06:19:36.266-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Pembangunan Syariah'/><title type='text'>Sistematika Pembagunan Rasulullah (bagian 5)</title><content type='html'>1.      Reformasi Bidang Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat&lt;br /&gt;1.      Produksi&lt;br /&gt;Wacana Konvensional umumnya menjelaskan produksi dari tiga sisi, yaitu apa yang diproduksi, bagaimana memproduksinya, dan untuk siapa barang/jasa diproduksi. Ini memastikan bahwa kegiatan produksi Feasible untuk mencapai economic Utility. Ekonomi islam menerima ketiga hal tersebut. Namun masih ditambah dengan nilai-nilai moral. Dalam islam kegiatan Produksi adalah bagian dari kewajiban Imaratul kaun, yakni menciptakan kemakmuran semesta untuk semua makhluk (Q.S 13:61). Sedang Fungsi Imarah merupakan bagian dari tugas Khilafah. Maka kegiatan produksi (Intaf) pada dasarnya adalah wajib Syar’I, sebab tugas Imarah tidak bisa diwujudkan tanpa berproduksi. Kerja sebagai unsur utama produksi harus ditunaikan untuk memenuhi hak Allah, hak hidup (aktualisasi diri), hak keluarga dan masyarakat&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Dalam pandangan Baqir Sadr&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; , ilmu ekonomi dapat dibagi menjadi dau bagian yaitu (1). Filosofi Ekonomi dan (2). Ilmu ekonomi. Perbedaan ekonomi islam dengan ekonomi konvensional terletak pada filosofi ekonomi. Bukan pada ilmu ekonominya. Filosofi ekonomi memberikan ruh pemikiran dengan nilai-nilai islam dan batasan-batasan syari’ah, sedangkan ilmu ekonomi berisi alat-alat analisis ekonomi yang dapat digunakan.&lt;br /&gt;Dengan kerangka berfikir semacam ini, faktor produksi dalam ekonomi islam tidak berbeda dengan faktor produksi ekonomi konvensional, yang secara umum dapat dinyatakan sebagai (1). Faktor produksi tenaga kerja, (2). Faktor produksi bahan baku dan bahan penolong, (3). Faktor produksi modal. Diantara ketiga faktor produksi ini, faktor modal yang memerlukan perhatian khusus karena dalam ekonomi konvensional diberlakukan sistem bunga. Pengenaan bunga terhadap modal ternyata membawa dampak yang luas bagi tingkat efisiensi produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Distribusi&lt;br /&gt;Qur’an Surat Al-Qashash 76 – 83, merupakan kisah seorang kapitalis bernama Qarun di masa nabi Musa yang patut kita ambil pelajaran darinya, dari rangkaian 8 ayat ini dapat ditarik rangkaian tujuan ekonomi islam sebagai berikut&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; :&lt;br /&gt;Mengutamakan Ketuhanan (Mencari Kehidupan akhirat)&lt;br /&gt;Memperjuangkan kebutuhan Hidup Duniawi (dan janganlah melupakan Nasib di dunia)&lt;br /&gt;Menciptakan kesejahteraan sosial&lt;br /&gt;Negara menyingkirkan Kebinasaan (Kekacauan)&lt;br /&gt;Untuk mencapai tujuan-tujuan ekonomi ini, terutama pada point yang ketiga yaitu menciptakan kesejahteraan sosial maka diperlukan pola distribusi yang tepat, sehingga pembangunan terditribusikan dengan baik kepada seluruh subjek dan objek pembangunan.&lt;br /&gt;Dalam Konteks distribusi ini maka islam mempunyai beberapa metode ditribusi pendapatan seperti (1). Distribusi Pendapatan melalui pola kemitraan usaha (Q.S. Al Muzammil :20). (2). Distribusi melalui pola hubungan perburuhan, dengan dua metode operasional seperti upah dan memposisikan pekerja sebagai mitra. (3). Distribusi melalui pola mekanisme pasar. (4). Distribusi melalui sistem Zakat. (5). Distribusi melalui sistem pewarisan (Q.S. Al-Baqarah :180,240).&lt;br /&gt;3.      Konsumsi&lt;br /&gt;Landasan mendasar dari konsumsi menurut islam terdapat dalam beberapa ayat dan hadis berikut ini :&lt;br /&gt;“Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Q.S Al Baqarah : 183).&lt;br /&gt;Ada 2 etika mendasar tentang pola konsumsi ini yang terdiri dari :&lt;br /&gt;1.      Hidup Sederhana&lt;br /&gt;“Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (Q.S A’raaf :31).&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Berhasillah orang yang menyrahkan diri kepada Allah (menjadi muslim) sedang rizkinya pas-pasan, tetapi Allah memuaskan”&lt;br /&gt;2.      Tidak Boros&lt;br /&gt;“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepad orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros” (Q.S Al Israa :26)&lt;br /&gt;“Sesunguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada tuhannya” (Q.S Al Israa : 27).&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Anas bin Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW, bersabda “Sesungguhnya termasuk ‘isrof (pemborosan), seandainya anda memakan semua yang mendatangkan nafsu makan kepada anda”&lt;br /&gt;Ini merupakan dua etika dasar pola Konsumsi yang digariskan dalam A-qur’an dan As-sunnah yang menjadi haluan pola konsumsi dalam islam, menurut Mukhamad Najib&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Setidaknya terdapat dua batasan berkonsumsi : Pertama, Pembatasan dalam hal sifat dan cara, Kedua, Pembatasan dalam hal kuantitas atau ukuran konsumsi, seperti untaian indah Al Qur’an Surat (17: 29) berikut ini “dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelengu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkanya…”. Sedangkan arahan islam dalam mengkonsumsi paling tidak ada tiga hal Pertama, Jangan Boros, Kedua, Seimbangkan Pengeluaran dan pemasukan, Ketiga, Tidak bermewah-mewah.&lt;br /&gt;Dalam konteks teori yang lebih modern sekarang ini maka dalam Konsep konsumsi  islam  mengenal konsumsi Intertemporal. Monzer Kahf (1981)&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; berusaha mengembangkan pemikiran konsumsi intertemporal islami, dengan memulai membuat asumsi sebagai berikut : (1). Islam dilaksanakan oleh masyarakat, (2). Zakat Hukumnya wajib (3). Tidak ada riba dalam perekonomian, (4) Mudarabah merupakan wujud perekonomian, (5). Pelaku ekonomi mempunyai perilaku memaksimalkan.&lt;br /&gt;      Konsep ini didasari oleh hadist Rasulullah SWT “Yang kamu miliki adalah apa yang telah kamu makan dan apa yang telah kamu infakkan…”. Dari konsep inilah akhirnya merubah fungsi konsumsi individu dalam konteks islam yaitu konsumsi di tambah dangan infak yang dikeluarkan oleh seorang muslim (Final Spending). Dalam tingkah laku ekonomi selanjutnya terjadinya perubahan fungsi konsumsi ini akan berpengaruh pada visi, dan perilaku individu ekonomi didalam islam, karena semakin tinggi konsumsi seorang individu dalam islam maka, akan meningkatkan infak yang dikeluarkan oleh seorang individu tersebut, akan berdampak pula pada motivasi berproduksi serta investasi yang lebih oleh seorang muslim, jika individu tersebut benar-benar mau menjadi makhluk ekonomi yang hakiki yaitu berproduksi, berkonsumsi, berinfak, berinvestasi (Saving), dan seterusnya, yang berakhir bahwa setiap individu ekonomi muslim, harus mempunyai kemampuan yang cukup bahkan dianjurkan lebih supaya fungsi ekonomi diatas dapat berjalan dengan lancar. Jika setiap individu mampu berperilaku seperti ini maka akan makmurlah negeri muslim.&lt;br /&gt;4.      Investasi&lt;br /&gt;Terkait dengan Investasi, belum begitu banyak leteratur yang menjelsakan investasi yang dilakukan Rasulullah SAW ketika memimpin nagara Madinah pada zamannya, pad topik ini penulis akan mencoba membahas kerangka normatif yang behubungan dengan Investasi yang dimabil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang merupakan Koridor bergerak ekonomIslam.&lt;br /&gt;a.       Usaha-usahay yang tidak dibenarkan.&lt;br /&gt;Hukum syariat islam telah menjadikan masalah pengembangan kepemilikan terkait dengan hukum-hukum yang tidak boleh dilanggar. Oleh karena itu, syariat islam melarang individu untuk mengambangkan kepemilikannya dengan cara-cara tertentu, anatara lain (1) Perjudian (Q.S Al-Maidah 90-91). (2).  Riba ( Q.S Al-Baqarah : 275). (3). Penipuan (Al-Ghab). (4). Penipuan (Tadlis) dalam jual beli. (5). Penimbunan. (6). Pematokan harga&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Ghabn  adalah membeli sesuatu dengan harga yang lebih tinggi dari harga rata-rata, atau dengan harga yang lebih rendah dari harga rata-rata.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;. Dan lebih jelas di ungkapkan dalam hadist Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah umar r.a bahwa ada seorang laki-laki mengatakan kepada nabi SAW, bahwa dia selalu menipu dalam jual beli, maka beliau bersabda :”Apabila kamu menjual, maka katakanlah :’Tidak ada Penipuan”.&lt;br /&gt;Penipuan (Tadlis) dalam jual beli bisa timbul dari dua aspek yaitu penipuan oleh penjual yaitu dapat berupa penjual menyembunyikan cacat barang dagangannya, padahal dia dengan sadar mengetahui cacat barang tersebut,a tau bisa pula dengan mencoba menutupi cacat tersebut sehingga seolah-olah barang dagangan tersebut tidak cacat. Penipuan dari pihak pembeli bisa berupa pembeli memanipulasi alat pembayarannya, padahal dia dengan sadar mengetahui kecurangan tersebut.&lt;br /&gt;b.      Usaha-usaha yang dibenarkan&lt;br /&gt;Sedangkan bentuk usaha –usaha yang dibenarkan dalam islam dapat berupa (1). Usaha Perniagaan (Q.S. An-Nisa’:29). (2). Bagi Hasil (Q.S  Al-Muzammil : 20). (3). Pinjaman Lunak(Qardhul Hasan) (Q.S. Al-Baqarah : 245).&lt;br /&gt;5.      Kebijakan Fiskal&lt;br /&gt;Prinsip islam tentang kebijakan fiskal dan anggaran belanja bertujuan untuk mengembangkan suatu masyarakat yang diadasarkan ats ditribusi kekayaan berimbang dengan menempatkan nilai-nilai material dan spritual pada tingkat yang sama.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lebih rinci Kebijakan Fiskal menyangkut kebijakan yang diambil pemerintah untuk membelanjakan pendapatannya dalam merealiasasikan tujuan-tujuan ekonomi. Kebijakan Fiskal mempunyai dua instrumen , pertama: kebijakan pendapatan, yang tercermin dalam kebijakan pajak, kedua; kebijakan belanja&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Di Makkah Sumber pendapatan Rasulullah sangat bergantung pada pendanaan Siti Khadijah dalm proses pengambangan dakwah islam, dan prinsip yang diterapkan pada saat ini adalah kerelaan untuk mengeluarkan dana pribadi untuk pengembangan dakwah, Di Madinah prinsip ini masih dipegang teguh sampai turunnya Q.S Al-anfal:41, tentang Khums, yaitu seperlima dari harta rampasan perang adalah milik Allah dan rasulnya, dan mulailah kemdirian ekonomi dan system pendapatan negara dipilah-pilah menjadi cukup rinci seprti terlihat berikut ini :&lt;br /&gt;Dizaman Rasulullah pendapatan bersumber dari&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt; :&lt;br /&gt;Dari Muslim&lt;br /&gt;Dari Non Muslim&lt;br /&gt;Umum&lt;br /&gt;Zakat&lt;br /&gt;Ushr (5 – 10%&lt;br /&gt;Ushr (2,5%)&lt;br /&gt;Zakat Fitrah&lt;br /&gt;Wakaf&lt;br /&gt;Amwal Fadila&lt;br /&gt;Nawaib&lt;br /&gt;Sadaqah yang lain&lt;br /&gt;Khumus&lt;br /&gt;Jizyah&lt;br /&gt;Kharaj&lt;br /&gt;Ushr (5%)&lt;br /&gt;Ghanimah&lt;br /&gt;Uang Tebusan&lt;br /&gt;Pinjaman&lt;br /&gt;Hadiah dari negara lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ushr adalah bea impor yang dikenakan kepada semua pedagang dibayar hanya sekali dalam setahun dan hanya berlaku terhadap barang yang nilainya lebih dari 200 dirham. Tingkat bea untuk orang yang dilindungi adalah 5% danmusil 2,5%.&lt;br /&gt;Wakaf adalah harta benda yang didedikasikan kepad aumat islam yang disebabkan Karena Allah dan pendapatanya disimpan dalam baitul mall.&lt;br /&gt;Amwal Fadila adalah harta benda muslimin yang meninggal dunia tanpa ahli waris atau yang meninggalkan negerinya.&lt;br /&gt;Nawaib adalah pajak yang jumlahnya cukup besar dan dibebankan kepada kaum muslimin yang kaya dalam rangka menutupi pengeluaran negara selama masa darurat dan ini pernah terjadi pada perang tabuk.&lt;br /&gt;Khumus adalah rikaz harta karun&lt;br /&gt;Jizyah adalah pajak yang dikenakan kepada orang non muslim khususnya ahli kitab, untuk jaminan perlindungan jiwa, property,ibadah, dan tidak wajib militer. Pada masa rasulullah besarnya jizyah sebesar 1 (satu) dinar pertahun untuk orang dewasa yang mampu membayarnya.&lt;br /&gt;Kharaj adalah pajak tanah yang dipungut dari non muslim ketika khaibar ditaklukkan. Tanahnya diambil oleh muslim, tapi pemilik lamanya menawarkan tetap akanmengelolanya, sebagai penganti sewa tanah mereka bersedia memberikan sebagian hasil produksinya kepada negara. Jumlah Kharaj dari tanah ini tetap sama yaitu sebesar setengah dari hasil produksi.&lt;br /&gt;Sedangkan pos-pos pengeluaran negara :&lt;br /&gt;Primer&lt;br /&gt;Skunder&lt;br /&gt;·                          Biaya Pertahanan&lt;br /&gt;·                          Pengeluaran Zakat&lt;br /&gt;·        Pembayaran Gaji untuk Wali, Qadi, Guru, Imam dll&lt;br /&gt;·                          Pembayaran Upah Sukarelawan&lt;br /&gt;·                          Pembayaran Utang  Negara&lt;br /&gt;·                          Bantuan Untuk Musafir&lt;br /&gt;·          Bantuan  untuk orang yang belajar&lt;br /&gt;   agama di Madinah&lt;br /&gt;·  Hiburan untuk delegasi&lt;br /&gt;·  Hadiah untuk negara lain&lt;br /&gt;·  Pembayaran pembebasan kaum&lt;br /&gt;   muslimin yang menjadi budak&lt;br /&gt;·  Pembayaran utang orang yang&lt;br /&gt;   meninggal dunia dalam keadaan&lt;br /&gt;   miskin&lt;br /&gt;·                          Tunjangan untuk orang miskin&lt;br /&gt;·                          Pengeluaran RT rasulullah&lt;br /&gt;·                          Persediaan darurat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Surahman Hidayat, Etika Produksi dalam islam, Republika 28 Okt 2002&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Dalam Adiwarman Karim, Ekonomi Mikro Islami,2002, hal 81&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Abdullah Zaky Al-Kaaf, Ekonomi Dalam Perspektif Islam, 2002, hal 104 - 109&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Artikel Republika, 8 November 2002&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Adiwarman karim,Ekonomi Mikro islami, 2002, hal 66&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Taqyuddin An-Nabhani, Membangun Sistem Ekonomi Al-Ternatif, 2000, hal 199-214&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Taqyuddin An-Nabhani, Op Cit, 2002, hal 203&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; M.Abdul Mannan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, 1997, hal 230&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt;  Artikel, pada http//www.imz.or.id 19 Oktober 2002&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Adiwarman Karim, 2002, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, hal 35&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2805917360377116211-2472302359732251073?l=www.ekonomi-islam.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/feeds/2472302359732251073/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2805917360377116211&amp;postID=2472302359732251073' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/2472302359732251073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/2472302359732251073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/2008/05/sistematika-pembagunan-rasulullah_488.html' title='Sistematika Pembagunan Rasulullah (bagian 5)'/><author><name>jaharuddin.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00917718316384441930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_FHUL2vrDL3k/SIvRgKDFiRI/AAAAAAAAAak/IV5_ijUIFu0/S220/DSC03759.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2805917360377116211.post-3521061035798965993</id><published>2008-05-15T00:13:00.000-07:00</published><updated>2008-05-28T06:20:37.830-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Pembangunan Syariah'/><title type='text'>Sistematika Pembagunan Rasulullah (bagian 4)</title><content type='html'>1.      Reformasi di Bidang Politik Keamanan&lt;br /&gt;a.   Piagam Madinah.&lt;br /&gt;            Piagam  Madinah diakui sebagai bentuk perjanjian dan kesepakatan bersama bagi membangun masyarkat Madinah yang plural, adil, dan peradaban. Ini merupakan konstitusi termodern di zamannya, atau konstitusi pertama di dunia (Robert N. Bellah). Lengkapnya Piagam Madinah tersebut adalah&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; .&lt;br /&gt;Preambule&lt;br /&gt;Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ini adalah piagam dari Muhammad, Rasulullah  SAW, di kalangan mukminin dan muslimin  (yang berasal) dari Quraisy dan Yastrib (Madinah), dan yang mengikuti mereka, mengabungkan diri dan berjuang bersama mereka.&lt;br /&gt;Pasal 1:&lt;br /&gt;Sesungguhnya mereka satu umat, lain dari (komunitas) manusia lain.&lt;br /&gt;Pasal 2:&lt;br /&gt;Kaum Muhajirin (pendatang) dari Quraisy sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu membahu membayar diat diantara mereka dan mereka membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil diantara mukmin.&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;Banu “Awf, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat diantara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin.&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;Banu Sa’idah, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat diantara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin.&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;Banu Al-Hrts, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat diantara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin.&lt;br /&gt;Pasl 6&lt;br /&gt;Banu Jusyam, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat diantara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin.&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;Banu An-Najjar, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat diantara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin.&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;Banu “Amr Ibn “Awf, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat diantara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin.&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;Banu Al-Nabit, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat diantara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin.&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;Banu Al-“Aws, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat diantara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin.&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;Sesungguhnya mukminin tidak boleh membiarkan orang berat menangung utang di antara mereka, tetapi membantunya dengan baik dalam pembayaran tebusan atau diat.&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;Seorang mukmin tidak dibolehkan membuat persekutuan dengan sekutu mukmin lainnya, tanpa persetujuan dari padanya.&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;Orang-orang yang takwa harus menentang orang yang diantara mereka mencari atau menuntut sesuatu yang zalim, jahat, melakukan permusuhan atau kerusakan di kalangan mukminin. Kekuatan mereka bersatu dalam menentangnya, sekalipun ia anak dari salah seorang di antara mereka.&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;Seorang mukmin tidak boleh membunuh orang beriman lainnya lantaran (membunuh) orang kafir. Tidak boleh pula orang mukmin membantu orang kafir untuk (membunuh) orang beriman.&lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;Jaminan Allah satu, Jaminan (perlindungan) diberikan oleh mereka  yang dekat. Sesungguhnya mukmin itu saling membantu, tidak tergantung pada golongan lain.&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang yahudi yang mengikuti kita berhak atas pertolongan dan santunan, sepanjang (mukminin) tidak terzalimi dan ditentang (olehnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;Perdamaian mukminin adalah satu. Seoarang mukmin tidak boleh membuat perdamaian tanpa ikut serta mukmin lainnya di dalam suatu peperangan di jalal Allah, kecuali atas dasar kesamaan dan keadilan di antara mereka.&lt;br /&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;Setiap pasukan yang berperang bersama kita harus bahu membahu satu sama lain.&lt;br /&gt;Pasal 19&lt;br /&gt;Orang-orang mukmin itu membalas pembunuh mukmin lainnya dalam peperangan di jalan Allah. Orang-orang beriman dan bertaqwa berada pada petunjuk yang terbaik dan lurus.&lt;br /&gt;Pasal 20&lt;br /&gt;Orang Musyrik (Yastrib) dilarang melindungi harta dan jiwa orang (musyrik) quriasy, dan tidak boleh bercampur tangan melawan orang beriman.&lt;br /&gt;Pasal 21&lt;br /&gt;Barang siapa yang membunuh orang beriman dan cukup bukti atas perbuatannya, harus di hukum bunuh, kecuali wali si terbunuh rela (menerima diat). Segenap orang beriman harus bersatu dalam menghukumnya.&lt;br /&gt;Pasal 22&lt;br /&gt;Tidak dibenarkan bagi orang mukmin yang mengakui piagam ini, percaya pada Allah dari Hari Akhir, untuk membantu pembunuh dan memberi bantuan atau menyediakan tampat tinggal bagi pelanggar itu, akan mendapat kutukan dan kemurkaan Allah di hari kiamat, dan tidak diterima dari padanya penyesalan dan tebusan.&lt;br /&gt;Pasal 23&lt;br /&gt;Apabila kamu berselisih tentang sesuatu, penyelesaiannya menurut (ketentuan) Allah “Azza wa jalla dan (Keputusan) Muhammad SAW&lt;br /&gt;Pasal 24&lt;br /&gt;Kaum yahudi memikul biaya bersama mukmin selama dalam peperangan.&lt;br /&gt;Pasal 25&lt;br /&gt;Kaum Yahudi dari bani A’wf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecauali bagi yang zalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarganya.&lt;br /&gt;Pasal 26&lt;br /&gt;Kaum Yahudi Banu Najjar diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.&lt;br /&gt;Pasal 27&lt;br /&gt;Kaum Yahudi Banu Hars diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.&lt;br /&gt;Pasal 28&lt;br /&gt;Kaum Yahudi Banu Saidah diperlakukan sama seperti yahudi Banu ‘Awf&lt;br /&gt;Pasal 29&lt;br /&gt;Kaum Yahudi banu Jusyam diperlakukan sama seperti yahudi Banu ‘Awf&lt;br /&gt;Pasal 30&lt;br /&gt;Kaum Yahudi banu al-‘Aws diperlukan sama seperti yahudi Banu ‘Awf&lt;br /&gt;Pasal 31&lt;br /&gt;Kaum Yahudi Banu Sa’labah diperlakukan sama seperti Yahudi banu ‘Awf, kecuali orang zalim atau khianat. Hukumannya hanya menimpa diri dan keluarganya.&lt;br /&gt;Pasal 32&lt;br /&gt;Suku Jafnah dari Sa’labah (diperlakukan) sama seperti mereka (Banu Sa’labah)&lt;br /&gt;Pasal 33&lt;br /&gt;Banu Syutaybah (diperlakukan) sama seperti yahudi banu “Awf. Sesungguhnya kebaikan (kesetiaan) itu lain dari kejahatan (khianat)&lt;br /&gt;Pasal 34&lt;br /&gt;Sekutu-sekutu Sa’labah (diperlakukan) sama seperti mereka (Banu Sa’labah)&lt;br /&gt;Pasal 35&lt;br /&gt;Kerabat yahudi (diluar kota madinah) sama seperti mereka (Yahudi)&lt;br /&gt;Pasal 36&lt;br /&gt;Tidak seorangpun dibenarkan (untuk perang), kecuali seizin Muhammad SAW. Itu tidak boleh dihalangi (menuntut pembalasan) luka (yang dibuat orang lain). Siapa berbuat jahat (membunuh), maka balasan kejahatan itu akan menimpa diri dan keluarganya, kecuali ia teraniaya. Sesungguhnya Allah sangat membenarkan (ketentuan) ini.&lt;br /&gt;Pasal 37&lt;br /&gt;Bagi kaum yahudi ada kewajiban biaya, dan bagi kaum muslimin ada kewajiban biaya . Mereka (yahudi dan Muslimin) Bantu membantu dalam menghadapi musuh piagam ini. Mereka saling memberi saran dan nasehat. Memenuhi janji lawan dari khianat. Seseorang tidak menangung hukuman akibat (kesalahan) sekutunya. Pembelaan diberikan kepada pihak yang teraniaya.&lt;br /&gt;Pasal 38&lt;br /&gt;Kaum yahudi memikul biaya bersama mukminin selama dalam peperangan.&lt;br /&gt;Pasal 39&lt;br /&gt;Sesungguhnya Yastrib itu tanahnya “haram” (suci) bagi warga piagam ini.&lt;br /&gt;Pasal 40&lt;br /&gt;Orang-orang yang mendapat jaminan  (diperlakukan) seperti diri penjamin, sepanjang tidak bertindak merugikan dan tidak khianat.&lt;br /&gt;Pasal 41&lt;br /&gt;Tidak boleh jaminan diberikan, kecuali seizin ahlinya.&lt;br /&gt;Pasal 42&lt;br /&gt;Bila terjadi sauatu peristiwa atau perselisihan di antara pendukung piagam ini, yang di khawatirkan menimbulkan bahaya, diserahkan penyelesiannya menurut (ketentuan) Allah ‘azza wa jalla, dan (keputusan Muhammad SAW. Sesungguhnya Allah paling memelihara dan memandang baik isi Piagam ini.&lt;br /&gt;Pasal 43&lt;br /&gt;Sungguh tidak ada perlindungan bagi Quraisy (Mekkah) dan juga bagi pendukung mereka.&lt;br /&gt;Pasal 44&lt;br /&gt;Mereka (Pendukung piagam) bahu membahu dalam menghadapi penyerang kota Yasrib.&lt;br /&gt;Pasal 45&lt;br /&gt;Apabila mereka (pendukung piagam) diajak berdamai dan mereka (pihak lawan) memenuhi perdamaian serta melaksanakan perdamaian itu, maka perdamaian itu harus dipatuhi. Jika mereka diajak berdamai seperti itu, kaum mukminin wajib memenuhi ajakan dan melaksanakan perdamian itu, kecuali terhadap orang yang menyerang agama. Setiap orang wajib melaksanakan (kewajiban) masing-masing sesuai  tugasnya.&lt;br /&gt;Pasal 46&lt;br /&gt;Kaum Yahudial-‘awf, sekutu dan diri mereka memiliki hak dan kewajiban seperti kelompok lain pendukung piagam ini, dengan perlakuan yang baik dan penuh dari semua pendukung piagam ini. Sesungguhnya kebaikan (kesetiaan) itu berbeda dari kejahatan (penghianatan). Setiap orang bertangung jawab atas perbuatannya. Sesungguhnya Allah paling membenarkan dan memandang baik isi piagam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 47&lt;br /&gt;Sesungguhnya piagam ini tidak membela orang zalim dan khianat. Orang yang keluar (berpergian) aman, dan orang yang berada di Madinah aman kecuali orang yang zalim dan khianat. Allah adalah penjamin orang yang berbuat baik dan takwa. Dan Muhammad Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piagam Madinah ini memberikan fondasi yang kuat dan kokoh kepada pemerintahan islam  di kota Madinah untuk menstabilkan politik keamanan, yang dalam sejarah duniapun memperlihatkan bahwa keamanan dan kestabilan politik merupakan icon penting dalam kemajuan perekonomian suatu negara.&lt;br /&gt;Menarik dikaji piagam Madinah ini merupakan piagam pertama dan terbaik didunia dalam sejarahnya dan ternyata ada beberapa pasal yang terkait dengan perekonomian seperti terlihat dalam pasal 2 - 11, yaitu tentang kewajiban setiap elemen masyarakat untuk membayar diat (denda), Pasal 20 tentang kewajiban bersama melindungi harta, Pasal 37-38 tentang kewajiban bersama menangung biaya untuk menghadapi pihak-pihak yang menentang piagam Madinah ini. Dengan demikian minimal terdapat terdapat 12 pasal yang mengatur tentang perekonomian secara langsung, yang kalau dilihat lebih jauh ini merupakan bentuk jaminan dalam keuangan negara, dengan cara bersama-sama (Takaful) menangung beban yang dihadapi negara tanpa membedakan agama dan suku.&lt;br /&gt;b. Membangun sistem Pertahanan&lt;br /&gt;Untuk melengkapi system yang seharusnya dimiliki oleh suatu negara, maka dibuatlah suatu kelengkapan pertahanan agama yang dilandasi Q.S Al-Anfal ayat 60 beikut ini : “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS. 8:60)”.&lt;br /&gt;c. Membentuk Majlis Syuro&lt;br /&gt;Allah SWT dalam Qur’an Surat At-Thalaaq ayat 6 memberikan amanah kepada Rasululullah SAW dan ummatnya untuk menyelesaikan perkara-perkara yang dihadapi dengan bermusyawarah “… dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu), dengan baik; … (QS. 65:6). Dilandasi ayat ini pulalah akhirnya Rasulullah melakukan pembentukan Majelis Syuro, dan untuk mempermudah pengelolaan negara maka  semenjak tahun ke-6 hijriah dibentuklah Sekretariat negara sebagai pusat pengelolan negara.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Artikel pada suplemen Republika, sabtu 29 Juni 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2805917360377116211-3521061035798965993?l=www.ekonomi-islam.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/feeds/3521061035798965993/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2805917360377116211&amp;postID=3521061035798965993' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/3521061035798965993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/3521061035798965993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/2008/05/sistematika-pembagunan-rasulullah_1098.html' title='Sistematika Pembagunan Rasulullah (bagian 4)'/><author><name>jaharuddin.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00917718316384441930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_FHUL2vrDL3k/SIvRgKDFiRI/AAAAAAAAAak/IV5_ijUIFu0/S220/DSC03759.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2805917360377116211.post-406356277232455252</id><published>2008-05-15T00:09:00.000-07:00</published><updated>2008-05-28T06:21:14.600-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Pembangunan Syariah'/><title type='text'>Sistematika Pembagunan Rasulullah (bagian 3)</title><content type='html'>Sistematika Pembangunan Rasulullah&lt;br /&gt;Setelah 13 tahun melakukan dakwah di kota Makkah, dengan berbagai rintangan yang di hadapi Rasulullah SAW, banyak kenangan manis karena dikota inilah rangkaian-rangkai dakwah dimulai oleh rasulullah SAW, sahabat-sahabat utama beliau tempa (tarbiyah) disini, sehingga menjadi pribadi-pribadi qur’ani, namun kejadian-kejadian pahit juga dialami oleh Rasulullah SAW di kota ini, seperti dilemparinya Rasulullah SAW di Thaif ketika handak mendakwahi komunitas yang ada disana. Akhirnya sampailah pada suatu keputusan yang tidak mudah, karena banyaknya kenangan dan pengorbanan yang akan bertambah ketika Rasulullah berserta pengikutnya berhijrah ke Madinah.Namun Rasulullah telah berketetapan hati dan tentunya keputusan ini merupakan tuntunan Allah SWT, sekitar tahun ke 13 kenabian maka Rasululllah beserta pengikutnya, berhijrah ke Madinah, berikut ini adalah langkah-langkah yang di lakukan Rasulullah ketika berhijrah ke Yastrib (Madinah).&lt;br /&gt;1.      Memahami Sosial politik dan Ekonomi Kota Madinah&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah dan sahabat agung memasuki kota Madinah, maka dalam salah satu riwayat tergambar bahwa tidak ada satu rumahpun yang tidak membicara kan beliau, ini memperlihatkan begitu antusiasnya penduduk kota Yastrib (Madinah) mendengarkan dan menanti-nanti kedatangan beliau, namun di sisi lain kondisi internal penduduk Madinah sebelum datangnya Rasulullah beserta kaum Muhajirin berada dalam kondisi konflik internal, tejadinya konflik antar suku dalam memperebutkan kekuasaan penguasa Madinah, Kondisi ekonomi yang tidak mapan karena masih sangat tergantung dari pertanian, dan yang paling kuat secara perekonomian pada saat itu adalah kaum yahudi, nah inilah yang menjadi bahan kajian yang mendalam yang dilakukan Rasulullah untuk mengawali sistematika pembangunannya yang pada akhirnya nanti ternyata inilah prototype pembangunan paling berhasil di muka bumi sampai hari ini , yaitu indahnya cahaya Madinatul Munawaroh, Kota yang bercahaya dan penuh barokah dimana&lt;br /&gt; setiap orang mendapatkan haknya masing-masing dan faham dengan baik apa yang menjadi kewajiban mereka terhadap negaranya.&lt;br /&gt;2.      Reformasi Sosial Budaya&lt;br /&gt;a.      Membangun Masjid&lt;br /&gt;Dalam rangka memperkokoh masyarakat dan negara baru yaitu Negara Madinah, Nabi Muhammad SAW segera meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat. Dasar pertama adalah membangun mesjid, selain tempat sholat, juga sebagai sarana penting untuk mempersatukan kaum muslimin dan mempertalikan jiwa mereka, disamping sebagai tempat bermusyawarah merundingkan masalah-masalah yang dihadapi. Masjid pada masa Nabi bahkan juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Jika ditelusuri lebih lanjut ternyata di bangunnya masjid sebagai pusat segala aktivitas pemerintahan, ekonomi, bisnis, dan ritual keagamaan ketika pertama kali Rasulullah membangun kota Madinah sebagai sebuah negara tidak terlepas dari perjuangan panjang yang melelahkan sebelumnya yang dilakukan Rasulullah sebelum di Madinah. Selama 13 tahun di Makkah Rasululullah benar-benar menjadikan aqidah dan pembentukan kepribadian islami di kalangan sahabatnya sebagai prototype islam yang syumul (Sempurna).&lt;br /&gt;Pembentukan pribadi yang sempurna sesuai dengan nilai-nilai qur’ani ini tidak bisa dipisahkan dari peran sentral masjid sebagai wadah pembinaan kader-kader pejuang islam tersebut. Aspek lain kenapa Rasulullah mendahulukan masjid ini bisa dianalisa bahwa Rasulullah didalam membangun sebuah bangsa, dia tidak mau melepaskan diri dari nilai-nilai yang selama ini menjadi keyakinan dan ruh bergerak dari setiap individu yang menjalankan roda pemerintahan tersebut, ini berarti dengan dibangunnya masjid untuk pertama kalinya memberikan kejelasan, bahwa keyakinan aqidah ummat benar-benar harus menjadi prioritas pertama dan utama jika suatu bangsa ingin maju dan makmur .&lt;br /&gt;b.      Merehabilitasi kaum Muhajirin Madinah dan Makkah&lt;br /&gt;Langkah kedua yang dilakukan Rasulullah adalah mempersaudarakan antar golongan Muhajirin dan Anshar sebagai penduduk Madinah&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;. Langkah ini  menciptakan sausana Ukhuwah Islamiyah yang kental yang tidak dibatasi oleh sekat-sekat selain agama. Rasulullah mencontohkan keterikatan emosional yang tanpa batas karena seagama bahkan Rasulullah memperlihatkan bagaimana seharusnya seorang hamba Allah yang baik memperlakukan saudara seimannya melebihi saudaranya yang diikat melalui tali keturunan. Akhirnya dari sini muncullah perasaan psikologis yang tiada tara dan kebangaan terhadap islam yang telah mampu menembus batas-batas territorial, batas-batas suku (Asyabiyah) yang begitu kental sebelumnya dikalangan masyarakat arab. Bahkan bukanlah cerita baru sebelumnya bangsa Arab  berperang dan bertikai hanya gara-gara sentimen suku (Asyobiyah) yang teramat kental.&lt;br /&gt;c.       Menciptakan Kedamaian&lt;br /&gt;Dasar selanjutnya yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah dengan menghubungkan tali persahabatan dengan  pihak-pihak lain yang tidak beragama islam&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;. Lebih lanjut keterikatan ini dituangkan dalam suatu perjanjian yang dalam konteks hukum tata negara disebut sebagai “Piagam Madinah”. Piagam Madinah merupakan suatu bentuk perjanjian antara umat islam yang diwakili oleh Rasulullah dengan semua elemen masyarakat yang ada di Madinah yang mengatur pola hubungan dan jaminan pelaksanaan hak-hak dan kewajiban setiap anggota masyarakat yang tidak dikotak-kotakan lagi dengan status agama.&lt;br /&gt;Akhirnya kita melihat bahwa Piagam Madinah ini menjadi strategis dalam membangun sebuah bangsa yang kokoh, karena dengan adanya piagam Madinah ini, memberikan landasan persyaratan minimal adanya suatu negara dan memberikan legitimasi Rasulullah SAW sebagai pemimpin Negara Madinah yang mengayomi semua masyarakatnya baik islam maupun non islam.&lt;br /&gt;d.      Meletakkan Dasar-dasar kehidupan bermasyarakat&lt;br /&gt;Akhirnya dengan adanya landasan Konstitusi pola hubungan bermasyarakat memberikan acuan mendasar dalam menentukan bagaimana seharusnya kehidupan masyarakat yang dilakukan oleh komunitas islam yang sehari-hari berinteraksi dengan elemen masyarakat lainnya. Termasuk dalam konteks ini adalah dikenakannya pembayaran diyat bagi non islam dan dalam proses pemenuhannya diatur begitu rinci dalam piagam Madinah. Untuk piagam Madinah akan kami uraikan pada topik reformasi bidang politik keamanan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, 2001, hal 25 - 26&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Badri Yatim, Op Cit, hal 26&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Badri Yaim, Op Cit, hal 26&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2805917360377116211-406356277232455252?l=www.ekonomi-islam.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/feeds/406356277232455252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2805917360377116211&amp;postID=406356277232455252' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/406356277232455252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/406356277232455252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/2008/05/sistematika-pembagunan-rasulullah_3770.html' title='Sistematika Pembagunan Rasulullah (bagian 3)'/><author><name>jaharuddin.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00917718316384441930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_FHUL2vrDL3k/SIvRgKDFiRI/AAAAAAAAAak/IV5_ijUIFu0/S220/DSC03759.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2805917360377116211.post-4797236534974368945</id><published>2008-05-15T00:07:00.000-07:00</published><updated>2008-05-15T00:09:16.946-07:00</updated><title type='text'>Sistematika Pembagunan Rasulullah (bagian 2)</title><content type='html'>Pembangunan yang dilakukan Rasulullah&lt;br /&gt;Pembangunan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, tidak terlepas dari apa yang pernah dilakukannya melalui tuntunan Allah SWT selama di kota Makkah sebelumnya yang didasari oleh adat dan seperangkat nilai yang dianut oleh bangsa arab pada waktu itu, yaitu (1). Suatu sistem ekonomi yang dipengaruhi oleh adat istiadat bangsa arab yang gemar berdagang. (2). Suatu sistem ekonomi yang dipengaruhi oleh seperangkat nilai islami &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; , untuk membatasi permasalahan pada tulisan ini maka penulis akan melihat sistematika pembangunan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW melalui pentahapan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bai’at Aqabah Pertama&lt;br /&gt;Menurut  Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; terdapat 12 orang yang melakukan bai’at  Aqabah pertama di Mina Makkah, dengan menyepakati hal-hal sebagai berikut :&lt;br /&gt;“Kemarilah dan berbai’atlah kalian kepadaku untuk tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak sendiri, tidak akan berbuat dusta yang kalian ada-adakan antara tangan dan kaki kalian, tidak mendurhakaiku dalam urusan yang baik, Barang siapa diantara kalian menepatinya, maka pahalanya ada pada Allah. Barangsiapa mengambil sesuatu dari yang demikian ini, lalu dia disiksa di dunia, maka ini merupakan ampunan dosa baginya, dan barang siapa mengambil sesuatu dari yang demikian ini, lalu dia disiksa di dunia, maka ini merupakan ampunan dosa baginya, dan barang siapa mengambil sesuatu dari yang demikian itu lalu Allah menutupinya, maka urusannya terserah Allah, Jika menghendaki dai menyiksanya dan jika menghendaki dia akan mengampuninya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dapat dilihat bahwa bai’at aqabah pertama ini lebih pada peletakan batu dasar pemahaman aqidah yang mantap, dikalangan penduduk Madinah yang sengaja di dakwahi oleh Rasulullah, dimana pada masanya nanti orang-orang ini pulalah yang menjadi pioner ditetapkannya kota Madinah sebagai tempat Hijrah, setelah disiapkan sedemikian rupa untuk menjadi kota tempat dibentuknya pemerintahan Rasulullah yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bai’at Aqabah Kedua&lt;br /&gt;            Bai’at Aqabah kedua di adakan pada musim haji tahun ketiga belas dari Nubuwah, tepatnya pada juni 622 M, lebih dari 70 muslimin penduduk Yastrib (Madinah) datang kekota Makkah untuk melaksanakan manasik haji dari kaumnya yang masih musyrik, Klausul bai’at aqabah kedua ini adalah sebagai berikut&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; :&lt;br /&gt;Untuk mendengar dan taat tatkala bersemangat dan malas&lt;br /&gt;Untuk menafkahkan harta tatkala sulit dan mudah&lt;br /&gt;Untuk menyuruh kepada yang ma’aruf dan mencegah dari yang mungkar&lt;br /&gt;Untuk tegak berdiri karena Allah dan tidak merisaukan celaan orang yang suka mencela Karen allah&lt;br /&gt;Hendaklah kalian menolongku jika aku datang kepada kalian, melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri, istri dan anak-anak kalian, dan bagi kalian adalah surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat Ka’ab sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu ishaq tentang klausul yang terakhir, didalamnya juga disebutkan  “Lalu Rasulullah SAW berbicara, membaca Al-Qur’an, berdo’a kepada Allah dan menyebutkan harapannya untuk islam, kemudian beliau bersabda” “Aku membai’at kalian, agar kalian melindungiku sebagaimana kalian melindungi istri dan anak-anak kalian”&lt;br /&gt;Dari klausul bai’at aqabah kedua ini memperlihatkan bahwa masih menekankan pada pemantapan aqidah, namun ada kemajuan yaitu permintaan Rasulullah untuk mempunyai loyalitas dalam memperjuangkan islam, dengan segala kondisi yang kemungkinan bisa menimpa mereka. Ini merupakan modal besar yang telah dilakukan Rasulullah dalam memantapkan aqidah ummatnya yang dibelakang hari menjadi pioneer umat terdahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Bahan Kuliah SPEI Pasca sarjana Ekonomi dan Keuangan syariah, angkatan ke 3&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfury , Sirah Nabawiyah, Maret 2003, hal 199&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Diriwayatkan Al-Bukhary dari Ubadah bin Ash-Shamit, dalam Sirah Nabawiyah , Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfury hal …&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dari jabir, dalam Sirah Nabawiyah Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfury, hal 206-207&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2805917360377116211-4797236534974368945?l=www.ekonomi-islam.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/feeds/4797236534974368945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2805917360377116211&amp;postID=4797236534974368945' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/4797236534974368945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/4797236534974368945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/2008/05/sistematika-pembagunan-rasulullah_15.html' title='Sistematika Pembagunan Rasulullah (bagian 2)'/><author><name>jaharuddin.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00917718316384441930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_FHUL2vrDL3k/SIvRgKDFiRI/AAAAAAAAAak/IV5_ijUIFu0/S220/DSC03759.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2805917360377116211.post-246806408694776583</id><published>2008-05-14T23:42:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T23:46:55.336-07:00</updated><title type='text'>Sistematika Pembagunan Rasulullah (bagian 1)</title><content type='html'>SISTEMATIKA  PEMBANGUNAN  RASULULLAH (Bagian 1)&lt;br /&gt;(Suatu Kajian Historis)&lt;br /&gt;Oleh Jaharuddin&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;*&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pengantar&lt;br /&gt;Kita menyadari bahwa  prilaku ekonomi telah ada sebelum Muhammad menjadi Rasulullah, ini berarti perilaku ekonomi telah ada semenjak nabi-nabi sebelumnya, dengan demikian sejarah ekonomi silam sebenarnya telah lama ada , dan ekonomi hari ini pun ada merupakan mata rantai dari prilaku ekonomi yang telah ada sebelum jauh Adam Smith, membuat philosophy-philosophy ekonomi klasik, namun pada pembahasan ini, penulis akan menelusuri dari bahan-bahan yang dimiliki seperti apa perilaku ekonomi di zaman Rasulullah, yang pada akhirnya nanti akan memperlihatkan sempurnanya islam dan ternyata islam mempunyai koridor-koridor tersendiri tentang ekonomi, yang diilhami dari Kitabullah dan Hadist Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;Mengapa penulis mengambil perioderisasi zaman Rasulullah SAW, karena penulis mempunyai keyakinan ketika Rasulullah lah konsep-konsep ekonomi tersebut di matangkan dalam bentuk ejawantah operasional  dan kita ketahui bersama ummat islam dan Non islampun mengakui keberadaan peradaban Madani di kota Madinah sampai hari ini merupakan peradaban terbaik yang pernah ada.&lt;br /&gt;Dengan demikian akan sangat menarik bagi kita semua untuk menulusuri sejauh mana pemikiran ekonomi telah dilaksanakan dengan baik, sehingga peradaban tersebut menjadi peradaban terbaik dari segala dimensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Rasulullah membangun Peradaban terbaik dalam sejarah&lt;br /&gt;            Tulisan ini akan mencoba menjawab pertanyaan di atas, karena ketika hampir semua orang tidak percaya lagi dengan konsep ekonomi dan pembangunan yang selama ini ada, bahkan sebagian ekonom lagi mencoba melihat apakah sistem ekonomi islam mampu mengisi kekosongan  sistem yang  menjawab permasalahan-permasalahan yang muncul akibat pembangunan ekonomi yang tiada arah pada dekade sebelumnya.&lt;br /&gt;            Kita menyaksikan ekonomi sosialis/komunis telah mengakhiri sejarahnya dengan runtuhnya Uni Soviet yang dilanjutkan anaknya Rusia yang sampai saat ini belum mampu keluar dari kesulitan ekonomi, bahkan dari hari kehari kita malah menyaksikan terpecah belahnya negara bekas adikuasa tersebut menjadi puluhan negara baru, ini merupakan bukti bahwa sistem yang selama ini mereka anut tidak mempunyai fondasi yang kokoh yang mampu menyelamatkan kehancuran Uni Soviet dan Rusia, disisi lain kita menyaksikan “Globo Cop” Amerika,  Amerika sebagai Bapaknya Ekonomi Liberal sampai saat ini belum mampu memberikan pemerataan ekonomi yang baik diantara semua strata social masyarakat, malah yang terjadi penumpukan Kapital pada beberapa gelintir orang yang kebetulan mendapat jaminan dan kemudahan dari penguasa yang berkuasa saat itu,  Amerika Sekarang di “stir” oleh pemilik modal di negara tersebut, yang terpusat pada segolongan yahudi yang kebetulan mampu mengendalikan calon penguasa dan pengusaha yang sedang berkuasa.&lt;br /&gt;Begitu pula dengan Mixed Economy yang banyak dianut oleh negara-negara yang sedang berkembang di Asia dan Afrika, sampai saat inipun tidak mampu mempertahankan identitas mereka sebagai negara yang menganut Sistem ekonomi campuran, terutama pasca tumbangnya Uni Soviet yang menyebabkan Amerika menjadi satu-satunya penguasa dan mampu mempengaruhi arah perekonomian dunia, termasuk sistem ekonominya.&lt;br /&gt;Kita melihat hampir semua negara yang dulunya closed dan cendrung sosialis sekarang telah mampu di buka pasarnya lebar-lebar oleh Amerika melalui lembaga-lembaga yang dikendalikannya, begitu pula negara-negara berkembang lainnya sampai saat inipun belum mampu beranjak jauh melejit dalam pembangunan ekonominya dengan sistem ekonomi campuran yang mereka anut, maka dapat diambil hipotesa bahwa ketiga sistem perekonomian tersebut belum mampu mengangkat ekonomi dan kemanusian sebagai mana pernah ada di zaman Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2805917360377116211#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;*&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2805917360377116211-246806408694776583?l=www.ekonomi-islam.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/feeds/246806408694776583/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2805917360377116211&amp;postID=246806408694776583' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/246806408694776583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2805917360377116211/posts/default/246806408694776583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.ekonomi-islam.co.cc/2008/05/sistematika-pembagunan-rasulullah.html' title='Sistematika Pembagunan Rasulullah (bagian 1)'/><author><name>jaharuddin.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00917718316384441930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_FHUL2vrDL3k/SIvRgKDFiRI/AAAAAAAAAak/IV5_ijUIFu0/S220/DSC03759.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
